PPT di Giessen

Bulan Ramadhan mempererat silaturahmi.

Giessen –  Salah satu yang ditunggu saat Ramadhan adalah buka puasa dan makan malam bersama di masjid. Beberapa Moschee (masjid) Arab dan Turki di Giessen menyediakan takjil dan makan malam. Inilah kesempatan bagi kami, Para Pencari Takjil (PPT), untuk mencoba berbagai kuliner dari negara lain dengan segala tata cara makan mereka. Beberapa makanan hanya dapat dijumpai saat Ramadhan, seperti pide (flat bread), baclava, dan pastirma dari Turki; serta nasi harira, briouats, dan harira soup dan masakan kambing dari Maroko. Tapi tetap saja makanan yang paling dirindukan adalah kolak pisang dan es cendol.

Salah satu menu, nasi khas Maroko

Salah satu menu, nasi khas Maroko

Momen-momen PPT

Momen ini juga ajang untuk berkenalan dengan orang-orang berbagai negara. Mayoritas masyarakat muslim di Giessen berasal dari Turki, Timur Tengah, Eropa Tengah dan benua Afrika. Muslim Indonesia sendiri lumayan terkenal di Giessen. Tak jarang mereka menyapa “Apa kabar?” dengan cukup fasih setelah tahu bahwa saya berasal dari Indonesia.

Momen buka puasa adalah saat yang tepat untuk berinteraksi dan lebih saling mengenal. Tak jarang saya bertemu dengan mahasiswa-mahasiswa yang berperawakan Eropa yang tinggal di kompleks apartemen yang sama, yang ternyata beragama Islam. Maklum di Jerman sendiri adalah hal yang tabu untuk menanyakan agama seseorang. Selama ini kami hanya saling berkata “Hallo” ketika berpapasan. Tetapi setelah tahu bahwa kita dipersaudarakan oleh Islam, hubungan menjadi lebih akrab dengan senantiasa mengucapkan “Assalammualaikum” dan saling bertukar kabar masing-masing saat bertemu. Saya tidak menyangka bahwa dibalik sosok yang European look, mereka adalah muslim-muslim yang taat.

Silaturahim dengan pengungsi

Giessen juga merupakan tempat penampungan sementara bagi para pengungsi dan pencari suaka sebelum mereka ditempatkan di kota-kota lain di Jerman. Berinteraksi dengan mereka juga dapat memberikan pelajaran hidup yang sangat berharga. Tahun lalu saya berkenalan dengan pengungsi dari Somalia yang kebetulan bisa berbahasa Inggris, sebut saja Ahmed. Awalnya dia dan juga rekan-rekannya sangat pemalu dan selalu bergerombol dengan wajah selalu menunduk dan mengawasi sekitarnya. Seakan menaruh curiga dengan orang di sekitarnya. Bahkan mereka agak marah saat mereka terpotret saya mencoba mengambil foto suasana buka puasa. Sayang sekali dia enggan untuk menceritakan masa lalu, keluarga yang ditinggalkan, dan kisah perjalanannya dari Somalia ke Jerman. Baginya, masa lalu biarlah menjadi masa lalu. Tidak perlu diceritakan. Lebih baik menatap masa depan. Ahmed sangat bersemangat menceritakan tentang rencana-rencana ke depan. Tentang usahanya mencari pekerjaan dan melanjutkan pendidikan lagi untuk mencapai masa depan yang lebih baik. Saat saya bertanya, apakah suatu nanti saat dia akan kembali ke Somalia. Dia hanya diam, menunduk sedih, dan berkata : Only Allah will know. Sungguh, saya kagum dengan pribadinya dan semangatnya untuk bangkit lagi. Ahmed, semoga Allah selalu melindungi dan menjaga iman pada dirimu dan keluargamu; dan semoga kesuksesan selalu menyertaimu.

Pelajaran hidup juga saya peroleh dari seorang pengungsi Suriah. Meski tidak dapat berkomunikasi karena beliau hanya bisa berbahasa Arab, tapi saya tahu bahwa beliau adalah orang yang pemurah. Di tengah keterbatasannya, beliau selalu ingin memberi sesuatu dengan ikhlas dan selalu bersyukur. Sungguh luar biasa, saat beliau terkena musibah dan seharusnya dibantu, tapi beliau malah selalu ingin berbagi meski hanya dengan sekotak kurma. Masya Allah.

Ramadanzelt

Buka puasa juga menjadi momen yang tepat untuk mengenalkan Islam dan puasa Ramadhan kepada masyarakat Jerman. Kadang beberapa brother muslim mengajak teman-teman kuliahnya untuk ikut menikmati buka puasa di masjid. Beberapa Moschee (masjid) dan organisasi Islam bekerjasama menyelenggarakan Ramadanzelt (Tenda Ramadhan), yaitu festival dan buka puasa bersama dengan mengundang masyarakat Jerman dan organisasi –organisasi masyarakat dan keagamaan. Di kota Marburg (sekitar 30 km utara Giessen), festival ini berlangsung selama 3 hari; sedangkan di Giessen hanya berlangsung satu hari. Dihadiri oleh walikota, acara ini menjadi ajang bahwa Islam sesungguhnya bukan agama kekerasan, tapi Islam adalah rahmatan lil ‘alamin. Yang membanggakan, Ramadanzelt ini disetarakan dengan Stadtfest (festival kota) dan dihadiri ribuan orang.

Ramadanzelt di Marburg

Ramadanzelt di Marburg (Foto: Kurniawan, 2013)

Berbuka puasa dengan saudara setanah air

Rindu dengan suasana buka puasa di Indonesia? Dengan orang-orangnya? Dengan makanannya? Tentu saja! Terus bagaimana? Alhamdulillah rasa rindu ini terobati dengan dengan berkumpul dan berbuka puasa bersama dengan MMI (Masyarakat Muslim Indonesia) di Frankfurt di setiap akhir pekan. Buka puasa biasanya di Mainfeld – Raum für Kultur atau di KJRI Frankfurt berjarak kira-kira satu jam dari Giessen. Inilah kesempatan untuk bercengkerama dengan saudara senasib dan berbicara bebas dengan Bahasa Indonesia dan daerah setelah sehari-hari telinga dan lidah terasa keriting berkomunikasi dengan bahasa Inggris dan Jerman. Dan tentu saja menikmati tempe dan tahu serta masakan khas Indonesia lainnya. Tapi sayang, tidak ada makanan khas Banjar seperti: bingka, amparan tatak, kraraban, lupis, iwak babanam, und zu weiter. Tapi, cukuplah merasakan kelapon dan kue lapis ala ibu-ibu MMI. Semoga Masjid Indonesia di Frankfurt bisa segera terealisasi sehingga Ramadhan tahun depan bisa buka puasa tiap hari dengan masakan Indonesia.

Advertisements

4 thoughts on “PPT di Giessen

  1. Pingback: Bang Toyib Jerman | Kurniawan's Page

  2. Pingback: Pengajian Pemuda Ganteng sponsori Bukber di Masjid Indonesia Frankfurt – Kurniawan's Page

  3. Pingback: Ramadan Mubarak … ! – Kurniawan's Page

  4. Pingback: Persiapan Puasa 19 jam di Jerman – Kurniawan's Page

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s