Al-Qur’an karya Muhammad ?

Al-Qur'an

Al-Qur’an

Hagen – Ada diskusi yang menarik saat saya mengikuti Muslim Summer Quest (MSQ) pada 2-4 Agustus 2014 di Hagen, Jerman. Diskusi tersebut tentang Al-Qur’an sebagai wahyu dari Allah SWT, yang disampaikan oleh Akhi Yudhi*).

Umumnya jika kita (yang sudah Islam sejak lahir) ditanya, “Bagaimana kamu yakin bahwa Al-Qur’an itu adalah benar-benar wahyu dari Allah, bukan karangan Muhammad?”

Mayoritas dari kita akan menjawab, “Karena dari segi bahasa dan sastra, belum ada yang mampu menandingi gaya bahasa Al-Qur’an.”

Tapi bila pertanyaan berlanjut, “Belum tentu. Bisa saja Muhammad ini seorang jenius dalam kesusastraan, sehingga mampu membuat karya seindah itu. Apalagi sastra di Arab pada waktu itu sangat berkembang. Pasti Muhammad banyak belajar dari penyair-penyair hebat di zamannya.”

“Tapi Nabi Muhammad tidak bisa membaca dan menulis”.

Well, Beethoven yang tuli saja bisa membuat komposisi musik yang hebat.”

“Eee… (aduh, gimana ya?).”

Bagaimana kita menjawab pertanyaan-pertanyaan ini?

  • Al-Quran diturunkan sebagai mukjizat .

Al-Qur’an diturunkan kepada Nabi Muhammad sebagai Mukjizat Allah SWT. Dalam aqidah Islam mukjizat dimaknakan sebagai suatu peristiwa yang terjadi di luar kebiasaan yang digunakan untuk mendukung kebenaran kenabian seorang nabi dan/atau kerasulan seorang rasul, sekaligus melemahkan lawan-lawan/musuh-musuh yang meragukan kebenarannya. Mukjizat hanya diberikan oleh Allah kepada para nabi dan rasul-Nya.

Mukjizat juga merupakan tantangan bagi orang-orang yang meragukan ke-Esa-an Allah SWT. Sebagai contoh, Allah memberikan mukjizat kepada Nabi Musa A.S. untuk mengubah tongkat menjadi ular, karena pada masanya orang-orang tergila-gila dengan segala macam sihir. Ternyata tidak ada satupun penyihir-penyihir tersebut yang mampu menandingi mukjizat Nabi Musa A.S. sehingga kemudian mereka bertaubat dan beriman kepada Allah SWT. Demikian juga ketika Nabi Isa A.S. dianugerahi mukjizat untuk menyembuhkan segala macam penyakit bahkan menghidupkan (untuk sementara) orang yang telah mati, karena pada masa itu ilmu pengobatan sangat berkembang.

Al-Qur’an diturunkan di Jazirah Arab pada zaman yang dikenal dengan zaman jahiliyah. Zaman dimana masyarakatnya menyembah berhala dan menyekutukan Allah, melakukan segala kemaksiatan, membunuh anak perempuan, dan sebagainya. Masyarakatnya terpecah berdasarkan suku-suku dan saling berperang antara satu dengan lainnya. Mereka bersedia melakukan dan berkorban apapun demi kehormatan sukunya, termasuk mengorbankan nyawa istri-istri dan anak-anak mereka. Di sisi lain, masyarakatnya cerdas dan menghargai sastra. Kesusasteraan berkembang sangat pesat. Penyair sangat dihargai dan memperoleh posisi terhormat di antara suku-suku. Dengan sebuah syair, suatu suku/kaum dapat menjadi terhormat ataupun terhina. Maka banyak suku-suku yang bersedia membayar mahal seorang penyair untuk membuat syair tentang kehebatan suku mereka.

Pada kondisi inilah Al-Qur’an diturunkan sebagai sebagai petunjuk bagi umat manusia, sekaligus menantang mereka yang tidak percaya bahwa Al-Qur’an adalah benar-benar wahyu Allah SWT. Tidak sedikit para penyair yang sebelumnya kafir kemudian bertaubat dan masuk Islam setelah membaca dan mengagumi keindahan gaya bahasanya.

  • Lirik versus isi/informasi

Suatu karya sastra/tulisan/prosa memiliki dua faktor utama: lirik dan informasi. Suatu tulisan yang memiliki lirik yang bagus, biasanya memiliki informasi yang terbatas. Demikian juga sebaliknya, semakin banyak tulisan mengandung informasi yang detail dan lengkap biasanya kualitas liriknya makin turun dan cederung makin datar. Sebagai contoh, suatu puisi atau lirik lagu yang indah biasanya akan memiliki kandungan informasi yang lebih sedikit. Demikian juga dengan tulisan, misalnya di majalah atau jurnal ilmiah. Tulisan jenis ini memiliki informasi yang detail dan lengkap, namun liriknya cenderung datar dan pemakaian kata-katanya cenderung standar dan berulang-ulang. Semakin lengkap dan detail informasinya, kualitas liriknya mengalami penurunan. Jadi, ada trade-off antara lirik dan informasi, dimana peningkatan kualitas salah satu unsur akan diikuti oleh penurunan kualitas unsur lainnya.

Hal tersebut berbeda dengan Al-Qur’an. Al-Qur’an memiliki gaya bahasa (lirik) yang indah dan sekaligus informasi yang lengkap yang tidak ada tandingannya. Kedua-duanya unggul. Dari segi informasi, Al-Qur’an memberikan tuntunan hidup yang lengkap. Tuntunan hidup meliputi kehidupan pribadi mulai dari bangun tidur sampai tidur kembali, mulai sejak dari dalam kandungan sampai meninggal; tuntunan hidup bermasyarakat dan bernegara. Al-Qur’an berisi informasi tentang ilmu pengetahuan, mulai dari fisika, astronomi, botani, kedokteran, biologi, dan lain-lain. Al-Qur’an juga berisi tentang sejarah, mulai dari penciptaan bumi dan langit, penciptaan manusia, sejarah nabi-nabi dan lainnya. Bahkan Al-Qur’an juga menceritakan masa depan, mulai dari keadaan masyarakatnya, kiamat dan tanda-tandanya, dan kehidupan setelah kiamat. Masih banyak lagi informasi yang terkandung dalam Al-Quran. Belum ada suatu kitab di dunia ini yang memiliki informasi selengkap, selogis dan sejelas Al-Qur’an.

Namun, informasi yang disajikan lengkap, logis dan jelas tersebut tidak mengurangi indahnya gaya bahasa Al-Quran. Gaya bahasa (lirik) nya tetap unggul. Hal ini sudah diakui oleh para ahli sejak zaman Nabi Muhammad SAW sampai saat ini. Tidak sedikit mereka beriman kepada Allah setelah mengetahui keunggulan gaya bahasa yang tak tertandingi, sebagaimana Umar bin Khattab. Jadi, “hukum trade-off” tidak berlaku bagi Al-Qur’an.

Jadi, mampukah Nabi Muhammad menciptakan/menulis kitab sehebat Al-Qur’an?

  • Diturunkan selama 23 tahun tapi gaya bahasa tidak berubah

Al-Quran diturunkan selama kurang lebih 23 tahun. Selama masa itu gaya bahasanya tidak mengalami perubahan.

Jamaknya suatu karya sastra yang ditulis selama bertahun-tahun pasti mengalami peningkatan kualitas baik gaya bahasa maupun diksi (pemilihan kata). Tulisan pada tahun pertama pasti akan berbeda dengan tahun-tahun selanjutnya. Hal ini karena keahlian (skill) manusia dapat berkembang berdasarkan latihan dan pengalaman yang diperolehnya. Jika Al-Qur’an adalah karya Nabi Muhammad, maka pasti akan terlihat perbedaan gaya bahasa antara ayat-ayat yang pertama kali turun dengan ayat-ayat terakhir.

Tapi ternyata gaya bahasa Al-Qur’an tetap sama indahnya mulai dari ayat-ayat pertama sampai dengan ayat-ayat terakhirnya. Ini membuktikan anggapan bahwa Al-Qur’an adalah hasil karya manusia, terbantahkan.


Demikianlah Al-Qur’an diturunkan oleh Allah SWT sebagai mukjizat dan petunjuk bagi umat manusia.

Wallahu A’lam Bishawab


*) Terima kasih kepada Akhi Adhipati Yudhistira Indradiningrat (dan seorang brother dari Turki) yang telah menyampaikan hal ini. Semoga ini termasuk amal jariah bagi mereka.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s