Islamophobia di Eropa

Giessen – Demo anti-Islam besar-besaran yang didukung Pegida (Patriotic Europeans Against the Islamization of the West) dilakukan serentak di 14 negara Eropa (termasuk Rep. Ceko , Jerman,  Findlandia, Estonia, Polandia, Slovakia, Swiss, dll.) pada 6 Februari 2016 ini.

Islamophobia di Eropa akhir-akhir ini semakin meningkat terutama akibat dari serangan terror di Paris (13 November 2015) dan serangan dan perampokan terhadap para wanita Jerman di Cologne saat perayaan tahun baru. Membanjirnya pengungsi yang berasal dari negara-negara timur tengah (Islam) ke negara Eropa Barat dituduh menjadi penyebab terjadinya serangan tersebut.

Pada diskusi Pengajian Online Uni-Eropa yang diselenggarakan oleh PCI Muhammadiyah Jerman Raya pada 31 Januari 2015, Ridho Al-Hamdi (kandidat Doktor Ilmu Politik TU Dortmund) memaparkan bahwa ada beberapa hal mengapa ada warga Eropa yang masih takut terhadap Islam. Pertama, adanya studi di USA yang memprediksi bahwa di Eropa pada tahun 2050 Kristen akan tetap agama terbesar, tetapi Islam akan tumbuh sangat cepat, sehingga persentasi umat Islam akan mencapai 30% sedangkan Kristen 31%. Umat kristen tetap mayoritas, tetapi secara kuantitatif mengalami penurunan. Tahun 2050 diperkirakan ada sekitar 70 juta umat Islam di Eropa.

Kedua, adanya hipotesis Samuel P. Huntington tentang clash of civilation, yaitu budaya dan agama akan menjadi sumber konflik di masa datang. Dinatara budaya yang saling berbenturan ini adalah antara Islam dan Barat. Selain itu, ada beberapa tulisan yang menyatakan bahwa syariat Islam menghalangi kebebasan dan demokrasi. Bahkan tidak sedikit warga Eropa yang berpendapat bahwa kerjasama dengan dunia Islam akan membahayakan dunia barat.

Peristiwa Arab Spring seolah-olah menjustifikasi alasan-alasan tersebut. Terjadinya revolusi yang menyulut perang saudara mengakibatkan gelombang pengungsi dari besar-besaran dari Timur Tengah dan Africa Utara ke negara-negara Eropa, seperti Jerman, Perancis, dan Inggris.  Gelombang pengungsi ini seolah-olah akan berkontribusi dalam pertumbuhan Islam yang pesat di Eropa. Perilaku negative sebagian kecil pengungsi atau migran, seperti tidak taat peraturan, tidak menjaga kebersihan, tidak menghormati wanita dan lain-lain seolah-olah mewakili budaya Islam. Perilaku negatif inilah yang dikhawatirkan akan merusak budaya Barat. Selain itu, konflik di Arab Spring ditenggarai karena ada perbedaan budaya dan aliran agama. Ada kekhawatiran, para pengungsi akan membawa konflik ini ke tanah Eropa.

Akibatnya, muncullah gerakan-gerakan anti Islam seperti di Denmark (Koran pelecehan Nabi Muhammad tahun 2005), dimunculkan di Italia; Belanda (Film Fitna, 2012); USA (Innocent of Moslem, 2013); dan beberapa Negara lain.

Sikap anti-Islam ini dijawab dengan serangan teror seperti di Charlie Hebdo di awal 2015, Paris Attack, dan lainnya. Akibatnya kelompok anti-Islam seakan memperoleh dukungan untuk memusuhi Islam. Hal ini tercermin dari  larangan jilbab di sekolah di Inggris (27 Januari 2016) karena dianggap menghalangi berinteraksi.

Bagaimana sikap kita sebagai umat Islam yang tinggal cukup lama di Eropa sehubungan dengan tindakan terror?

Pertama, perlu dijelaskan bahwa kasus terorisme sejak 2005 di London, Stockholm, Gedung Uni Eropa, Charlie Hebdo, dan Paris, meski yang tertuduh adakah orang Islam, namun tidak serta merta menyalahkan seluruh umat Islam dan ajaran Islam. ISIS atau Al-Qaidah bukan murni gerakan agama, tapi berlatar politik.

Yang kedua, sebagian orang dari negara Islam, dalam perilaku sehari-hari sering melanggar aturan (missal: melanggar lampu merah, tidak menjaga kebersihan). Di Eropa kriminalitas rendah, sedangkan kita datang dari negara-negara berkembang yang tingkat kriminilitasnya cukup tinggi. Ini kegagalan kita sebagai umat Islam dalam berperilaku sehari-hari. Perilaku kita pribadi dipandang orang mencerminkan perilaku setiap warga negara/agamanya. Perilaku-perilaku umat Islam terkadang jauh dari identitas Islam yang sangat menjunjung tinggi kebersihan dan taat aturan.

Untuk mengatasi Islamophobia, ada beberapa cara yang bisa kita lakukan: (1) Buktikan bahwa Islam itu baik dengan perilaku kita,  sehingga banyaknya gelombang pengungsi dan datangnya Islam tidak dianggap sebagai ancaman; (2) penguasaan terhadap media dan merangkul media-media mainstream agar memberitakan Islam secara proporsional; (3) mendidik dan mengajak orang-orang terdekat untuk memperbaiki diri dan perbaiki pendidikan generasi muda (penanganan teroris yang berlebihan akan memicu anak balas dalam); dan (4) berpolitiklah secara baik, artinya politik adalah alat, bukan tujuan akhir, karena tujuan akhir dari berpolitik adalah kemaslahatan umat.

Advertisements

4 thoughts on “Islamophobia di Eropa

  1. Salam kenal juga, Bu. Iya memang begitulah anggapan (mungkin) mayoritas orang Eropa. Bahwa Islam identik dengan kekerasan dan anti demokrasi. Mungkin hal ini dipengaruhi oleh pengalaman mereka saat gereja berkuasa penuh dan dijadikan alat untuk memperoleh kekuasaan oleh raja/landlord. Apalagi Jerman sendiri punya pengalaman perang saudara antara Katholik dan Protestan, yang pada waktu itu hampir membuat Jerman hancur. Rakyat dipaksa berperang atas nama agama atas perintah pendeta dan landlord.
    Akibatnya, mereka menjadi antipati jika agama terlalu ikut campur (memaksa) kepada hal-hal yang bersifat duniawi, termasuk berpakaian.
    Untuk jilbab, memang saat ini..alhamdulillah..tidak ada larangan. Para muslimah merasa nyaman dan terjaga saat berjilbab (paling tidak, itu yang saya temui di kampus). Saya kagum dengan keistiqomah-an mereka, meski berjilbab mereka tetap berprestasi. Ini sekaligus membantah bahwa jilbab menjadi pengekang untuk berkembang.

    Like

  2. Halo Pak Yousuf, salam kenal. My first visit to your blog dan women kayaknya langsung panjang. Saya tersenyum miris baca ini ==> ada beberapa tulisan yang menyatakan bahwa syariat Islam menghalangi kebebasan dan demokrasi

    Jadi Febuari tahun lalu, saya kenal sama seorang kakek dari Eropa lah, puluhan tahun tinggal di Indonesia. Blio mengenalkan saya sama anaknya yang tinggal di negara asal si opa lalu kami (saya dan anak si opa) komunikasi via whatsapp. Si anaknya ini pernah juga ikut ayahnya tinggal di Jakarta sekitar tahun 90-an. Maish smp/sma lah saat itu. Akhir tahun lalu saya sempat ketemu anaknya si opa waktu saya trip ke Eropa. Dia bikin statement, kira-kira “Kok sekarang banyak banget ya peremuan pake jilbab. Dulu waktu saya tinggal di Indonesia paling cuma 10%-an, sekarnag hampir semua pake jilbab deh. Ini ada movement ngga sih di Indonesia? kan bikin limitation dan (jilbab) ngga sesuai jaman lagi”

    Karena saya tinggal di Indo, dengan mayoritas penduduk muslim walaupun kelakuan jauh dari nilai islam (salah satunya buang sampah sembarangan hahahah) saya merasa gerak saya ngga terbatas. Di kelas hip hop dance saya aja 4 dari 7 dancer pakai jibab! Ya, paling saya ngga bisa ikut kelas Kizomba dance karena gerakannya terlalu “intim” dengan lawan jenis, tapi kan masih banyak pilihan kelas nari lain!
    now I wonder what if I live as a minority?

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s