Reminder: tragedi Jumat Kelabu 23 Mei 1997 Di Banjarmasin

Giessen an de Lahn – Setelah 19 tahun tragedi yang menghilangkan ratusan nyawa manusia di Banjarmasin, mungkin masih lekat di ingatan masyarakat saat itu bagaimana mencekam dan ganasnya kerusuhan dan kebrutalan massa  sampai menimbulkan ratusan korban jiwa.

Saya masih berumur 17 tahun saat itu. Saat dimana ikut kampanye hanya untuk bersenang-senang belaka. Selesai jumatan, segera menghias motor dengan gambar partai kuning (maklum ayah PNS). Berparade naik motor bersama adik, teriak sekencang-kencangnya sambil membunyikan klakson motor. Tak disangka, 40 km dari tempat kampanye yang saya hadiri, terjadi kerusuhan hebat.

Kerusuhan dimulai setelah selesai sholat Jum’at sekitar 13.00 WITA dan berakhir keesokan harinya. Namun keadaan masih mencekam sampai beberapa hari kemudian. Semua warga menggiatkan ronda, apalagi di komplek rumah dinas.

Kronologi

Tragedi kerusuhan terjadi pada 23 Mei 1997 hari terakhir kampanye Pemilu untuk anggota legislatif tahun 1997. Di kota yang sangat islami, Banjarmasin, pendukung PPP merasa ditindas oleh partai penguasa Golkar.

Pada hari jumat itu, Partai Golkar mendapat giliran terakhir untuk berkampanye. CNN memberitakan bahwa para simpatisan Golkar melakukan provokasi sepanjang jalan dengan mengacungkan tanda ‘V’ kepada jamaah sholat Jumat atau orang-orang yang dianggap sebagai pendukung PPP.

Setelah sholat Jumat, ribuan orang menyerang pendukung Golkar yang akan berkampanye. Kekerasan berdarah ini menyerang beberapa pendukung kampanye Golkar, serta menyerang berbagai kepentingan usaha di Banjarmasin termasuk Kristen dan Tionghoa.

Mengapa peristiwa tragis itu terjadi?

Menurut sumber dari Tim Lembaga Bantuan Hukum Nusantara (LBHN) cabang Banjarmasin yang melakukan investigasi ke lapangan, kejadian itu bermula dari keinginan massa Golkar untuk melewati Jalan P. Samudera. Padahal pada saat yang bersamaan, jamaah di Masjid Noor yang terletak di jalan P. Samudera tersebut, belum selesai shalat Jumat. Ketika massa yang akan berkampanye itu melintas, jamaah shalat Jum’at yang luber sampai ke jalan itu masih sedang berdoa. Sebenarnya Polantas sudah berusaha menghadang massa Beringin. Namun Satgas Golkar bersikeras untuk melewati jalan itu. Alasan mereka, shalat Jumatnya tinggal membaca doa.

Korban

Menurut koran lokal “Dinamika Berita” edisi Senin (26 Mei), korban yang ditemukan hingga Minggu malam sebanyak 142 orang. Dan 132 orang diantaranya terbakar di Mitra Plaza, dua terbakar di Lima Cahaya, dan dua lainnya meninggal karena luka bacokan.

Gambar yang dimuat koran lokal lain menyebutkan, korban yang 142 orang itu masing-masing 136 mayat ditemukan di Mitra Plaza, 2 mayat ditemukan di Lima Cahaya, dan dua lainnya di Sari Kaya. Masih kata sumber tersebut, itu belum termasuk dengan korban yang terdapat di Kalimantan Hotel dan Pusat perdagangan Junjung Buih Plaza.

Sementara, menurut laporan Tim LBHN Banjarmasin, harian Banjarmasin Post memberitakan 164 orang dinyatakan hilang. Sementara korban yang terdapat di rumah sakit, terdiri dari 69 orang di RSU ULIN, 14 orang di RS Suaka Insan, 21 orang di RS Islam, dan beberapa orang di RS Dr Soeharsono dan RS Ratu Julaiha. Disinyalir juga mereka yang hilang itu ada yang tertembak.

Menurut catatan LBHN Banjarmasin yang dilaporkan ke Komnas HAM itu, pada pagi hari Sabtu di Jalan Sutoyo terlihat sekitar tujuh korban tewas akibat tembakan. Tapi masyarakat tidak berani mendekati korban. LBHN Banjarmasin sendiri belum memperoleh informasi yang tertembak itu sebagai korban apa dan siapa yang melakukan penembakan itu. Tapi, Kapolda Kalimantan Selatan Kolonel (Pol) Drs Sanimbar membantah adanya korban yang tertembak, seperti dikutip Kompas (Rabu, 28/5/1997).

Sesuai laporan untuk Mabes Polri, tercatat 123 orang tewas, 121 diantaranya tewas di Mitra Plaza lantai dua. Dan dua lainnya tewas di Toserba Sari Kaya. Dikatakan Kapolda, 123 orang yang tewas itu sebagian besar dari kelompok perusuh. Mereka masuk dengan maksud menjarah barang-barang yang ada di pertokoan itu. Kemudian jumlah yang ditahan dan dinyatakan sebagai kelompok perusuh, lanjut Kapolda, sebanyak 106 orang. Beberapa diantaranya sudah dipulangkan. Status mereka, menurut Kapolda, “Masih sebatas diminta keterangan dan belum berstatus tersangka.”

CNN melaporkan bahwa di Mitra Plaza beberapa jenazah yang ditemukan tengah memeluk barang-barang hasil jarahan, seperti jam tangan, ikat pinggang, dan tas. Bahkan ada yang memakai celana tiga lapis.

Kerusakan

Sebuah gereja HKBP yang terbuat dari kayu dibakar massa, yang letaknya sekitar 300 m dari masjid Noor, mengakibatkan sejumlah rumah pribumi di belakang gereja HKBP ikut terbakar, bangunan lainnya dirusak seperti gereja Katedral dan dua gereja Katolik, beberapa sekolah Katolik dan sebuah rumah panti jompo. Delapan pusat belanja, cabang Bank Lippo, toko-toko milik tionghoa, serta tujuh gereja lainnya, sebuah vihara Budha, dua hotel, 21 mobil, 130 rumah, dan 4 gedung milik pemerintah hancur atau dibakar.

CNN melaporkan, bahwa 7 gereja, 8 shopping center, 130 rumah, 21 mobil, 60 sepeda motor, 4 gedung pemerintah dan 3 hotel mengalami kerusakan atau hancur.

Pelajaran

Inilah tragedi yang paling menyedihkan dalam sejarah Kalimantan Selatan. Di level akar rumput, mereka saling bunuh atas nama ideologi partai. Sementara di atas sana di gedung kura-kura nan megah, mereka berdagang sapi berebut kekuasaan di atas darah pendukung partainya sendiri. Lalu, pantaskah kita terlalu bangga dengan golongan, suku, dan partai, sehingga mampu bertindak keji dengan membunuh saudara sendiri? Sementara pimpinan dan wakil yang kita bela habis-habisan tidak sedikitpun peduli.

Sumber:

  • Wikipedia
  • CNN
  • Ekloef, S. 1999. Indonesia Politics and Crisis: The Long Fall of Suharto 1996-98. Nordic Institute of Asian Studies.
Advertisements

2 thoughts on “Reminder: tragedi Jumat Kelabu 23 Mei 1997 Di Banjarmasin

  1. the sad thing is, fast forward almost 2 decades, masalah republik ini masih ngga jauh dari issue ini.
    mungkin benar kali pak, agama sama politik harus dipisah macam negara tempat tinggal anda sekarang. just my two cents :-/

    Like

    • Memang banyak orang melihat itu adalah masalah agama. Tapi sebenarnya itu masalah politik. Saya masih ingat pada waktu itu, orang yang berbaju kuning pasti akan diserang, tidak peduli apa agamanya. Kemudian, orang yang berbaju hijau yg berkeliaran di kota akan ditangkap atau ditembak.
      Masalahnya bukan pada agama sih, menurut saya. Tapi pada mudahnya akar rumput untuk diprovokasi, serta menyelesaikan masalah dengan kekerasan. Selain juga masalah kesenjangan sosial.
      Memang banyak media Barat yang menyayakan bahwa ini kerusuhan etnis karena beberapa gereja yang dirusak. Tapi banyak juga korban meninggal yang notabene sebagian besar orang Islam, yang mungkin dibunuh oleh saudaranya sendiri karena berbeda bendera.

      Soal agama dan politik harus dipisah, memang kelihatannya baik. Tapi akan timbul konflik lagi. KOnflik antar suku dan golongan. Ini akan lebih berbahaya. Selama ini diakui bahwa agama adalah perekat antar suku/golongan.

      Di Jerman sendiri, agama tidak benar-benar dihilangkan dari politik kok. Bahkan ada partai yang berbasis agama (CDU) yang meruapakn salah satu partai mayor di Jerman.

      Jadi sebenarnya bukan karena agama dalam politik. Tapi lebih karena mudahnya akar rumput diprovokasi, ada permainan/persaingan politik, dan budaya kekerasan untuk menyelesaikan masalah, serta pemerintah yang baru bergerak setelah terjadi kerusuhan,

      Demikian opini saya…hehe…

      Eh.., kalau two cents kaya nya ga cukup. Bisa minta 3.30 euro lagi ga, supoaya cukup untuk beli doener kebab…. wkwkwkwkwk

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s