Lika-liku mendapatkan ruang untuk sholat di universitas Jerman

Giessen an der Lahn – Teringat beberapa bulan lalu ada berita mengejutkan dari TheLocal.de (11.03.2016) tentang penutupan ruang sembahyang (prayer room) di 3 universitas terkemuka di Jerman, yaitu: Technical University Dortmund, University of Essen-Duisburg, dan Technical University Berlin. Ada beberapa alasan yang mendasarinya. Mulai dari alasan ‘keamanan’, kekurangan ruangan, dan mewujudkan perlakuan yang sama untuk semua kelompok (agama, negara dan budaya). Namun ada dugaan bahwa inilah konflik antara sekularis dan religius.

‘Keamanan’ dijadikan alasan karena ada kecurigaan bahwa prayer room, yang umumnya digunakan oleh muslim, disalahgunakan untuk menumbuhkan benih-benih radikalisme dan fundamentalisme. Selain itu ada tuduhan bahwa ada segregasi ruangan antara pria dan wanita (yang memang sudah seharusnya untuk sholat), dan jemaah laki-laki berusaha mendapatkan tempat yang lebih luas daripada jemaah perempuan. Ini dikhawatirkan akan memicu konflik antar gender dan universitas akan dituduh membiarkan tumbuhnya bias gender.

Alasan kekurangan ruangan dikemukakan bahwa jika mahasiswa Islam memperoleh ruangan khusus untuk sholat, maka kelompok mahasiswa lain juga akan menuntut hak yang sama. Maka dapat dibayangkan, berapa ruangan yang perlu disediakan bagi setiap kelompok mahasiswa berdasarkan agama, budaya, gender, negara, dan kelompok lainnya. Karena Jerman menganut perlakuan yang sama di dalam lingkungan pendidikan, akhirnya daripada harus menyediakan sejumlah ruangan, menutup prayer room adalah pilihan yang lebih mudah.

Pihak universitas juga sulit memperkirakan berapa jumlah mahasiswa Islam yang memerlukan prayer room. Hal ini karena universitas di Jerman dilarang untuk mendata agama dari mahasiswanya untuk menhindari bias perlakuan karena agama. Akibatnya mereka tidak tahu berapa jumlah mahasiswa Islam sebenarnya dan berapakah yang benar-benar memerlukan prayer room.

Akhirnya yang bisa dilakukan oleh mahasiswa muslim adalah mengumpulkan tanda tangan dan mengajukan petisi untuk memperoleh fasilitas praying room. Dengan cara ini, sebagian berhasil memperoleh fasilitas praying room seperti di University of Cologne, atau disediakan ruangan untuk sholat Jumat di Technische Hochschule Mittelhessen (THM), Gießen. Ada juga universitas yang menyediakan silent room, yaitu ruangan yang digunakan untuk sembahyang dan berdoa bagi semua agama, seperti di Goerg-August University Göttingen and Göthe University Frankfurt. Ini termasuk lumayan, meski harus berbagi dengan umat Kristiani, Yahudi, dan lainnya.

Memang tak mudah untuk memperjuangkan adanya prayer room. Kita harus berhadapan dengan kaum sekuler yang beranggapan bahwa dunia pendidikan harus dipisahkan dari agama dan agama hanya membawa perpecahan. Dan tentu saja menjawab tuduhan klasik bahwa prayer room berpotensi memicu terorisme. Suatu tuduhan yang paranoid.

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s