Kok gitu? Unglaublich… Ok deh …. (5)

DISCLAIMER…!!!
Tulisan ini hanya berdasarkan dari pengalaman dan pengamatan sepintas yang dangkal, serta cerita dari beberapa teman yang sudah lama menetap di Jerman. Ini tidak menggambarkan sifat orang Jerman dan Indonesia secara umum.

Giessen – Dalam pergaulan dengan orang Jerman, ada beberapa hal yang membuat masing-masing dari kita hanya geleng-geleng kepala.

Aturan membawa pisau

Jerman termasuk negara yang memiliki aturan ketat soal pisau dan  senjata tajam. Butterfly knife dan pisau lipat dengan tombol yang hanya memerlukan satu tangan untuk menghunusnya dilarang untuk diperjualbelikan. Demikian juga dengan pisau yang memiliki bagian tajam lebih panjang dari 12 cm. Namun hal ini tidak berlaku untuk pisau yang digunakan untuk bekerja dan keperluan rumah tangga, seperti pisau untuk memasak dan berkebun.

Membawa pisau di tempat umum juga diatur dengan ketat. Pisau harus dibungkus rapat hingga susah dibuka dengan satu tangan, dan harus dimasukkan dalam tas. Pisau tidak boleh ditampilkan di muka umum. Aturan ini juga berlaku untuk airsoft gun.

Pernah ada berita  bahwa otoritas pemerintah kota Frankfurt menolak permohonan dari sukarelawan yang ingin  menggunakan pisau di tempat publik. Pisau ini akan digunakan untuk membersihkan ornamen di Central Station Frankfurt. Aturannya cukup ketat bukan? Bahkan untuk kerja sukarela pun menampilkan pisau di depan umum dilarang.

Menurut aturan di Indonesia, sama sekali dilarang membawa pisau di tempat umum tanpa ada ijin, meski dengan alasan untuk jaga-jaga dan membela diri. Berdasarkan UU Darurat tahun 1951, hukumannya cukup berat. Meskipun begitu, penerapan sanksinya tidak konsisten. Larangan ini dikecualikan untuk alasan pekerjaan.

Beban Tembakau

Eurostat memaparkan data tahun 2015 bahwa diantara penduduk Jerman umur di atas 15 tahun 28.8% adalah perokok, 25.5% adalah pria dan 20.3% wanita. Kebanyakan diantaranya berumur 25-34 tahun. 33.5% perokok pria berpendidikan rendah sementara 22.0% perokok wanita berpendidikan menengah. Kebanyakan dari perokok Jerman menghabiskan kurang dari 20 batang per hari. Ini termasuk rendah diantara negara-negara EU. WHO melaporkan bahwa tahun 2005, Jerman menghabiskan hampir US$ 7 milyar untuk menangangi masalah kesehatan terkait rokok. Data dari The Tobacco Atlas tahun 2010, 21.1% kematian pria dan 9.6% kematian wanita disebabkan oleh merokok. Sekitar 1698 pria dan 758 wanita meninggal tiap minggu karena merokok.

Sementara itu di Indonesia,  Tobacco Free Kids memaparkan bahwa tahun 2011 jumlah perokok di Indonesia mencapai 61 juta jiwa (36.1%), dengan komposisi 67% pria dan 4.5% wanita. Di antara remaja berumur 13-15 tahun, 20% perokok (41% pria dan 3.5% wanita).

Apa konsekuensinya bagi Indonesia?

Merokok membunuh sedikitnya 225 ribu orang per tahun dan 97 juta non-perokok terpapar asap rokok. Sementara itu 78% remaja umur 13-15 tahun terpapar asap rokok di tempat-tempat publik dan 69% nya di rumah.Survey tahun 2005 menemukan bahwa perokok menghabiskan 11.5% pendapatannya untuk rokok, lebih tinggi dibandingkan dengan 11% untuk membeli ikan, daging, telur dan susu, 3.2% untuk pendidikan, dan 2.3% untuk kesehatan. Biaya kesehatan untuk penyakit terkait asap rokok mencapai Rp 11 trilyun (US$ 1.2 milyar) per tahun. Separuh dari kematian akibat rokok menimpa perokok berusia produktif (30-69 tahun). Semua kerugian ini ditanggung oleh seluruh masyarakat Indonesia.

Partai Satir

Di Jerman, ada sebuah partai politik yang hobinya membuat lelucon partai lain. Umumnya partai yang jadi sasaran olok-olok satirnya adalah parpol populis kanan. Partai satir ini dikenal dengan Die Partei. Meski terkesan hanya lelucon, ternyata banyak juga pendukungnya. Terbukti Die Partei memiliki sejumlah kursi di parlemen Uni Eropa. Di sana mereka juga membuat lelucon wakil-wakil partai lainnya.

a1XVXQP_700b

“Hukuman mati bagi pelaku bom bunuh diri” (foto: die-partei-dueren.de)

die-Partei-Düren-Merkel-isst-doof

Merkel is su*k“. Bahkan kanselirnya pun tak luput dari olok-olok (foto: die-partei-dueren.de)

Mark-Beneke

Tokoh dari kemeterian kesehatan bayangan adalah perokok (Foto:die-partei-dueren.de)

Kalau di Indonesia, dulu ada beberapa acara TV yang berisi humor satir dan mengkritisi pemerintah, seperti: Republik BBM dan Republik Mimpi. Hanya saja tidak berlangsung lama karena rumornya penguasa pada waktu itu kurang berkenan, dan pemilik stasiun TV nya pun mulai mendekat ke penguasa. Kalau sekarang acaranya dilanjutkan lagi maka akan dihabisi para buzzer-nya kali ya…

Keramahan terhadap kaum disabilitas

Jerman termasuk negara yang paling ramah terhadap kaum difable, ibu hamil dan ibu yang memiliki balita. Ini terlihat dari berbagai fasilitas umum dan akses yang memudahkan mereka. Untuk kaum tuna netra, misalnya. Di trotoar, sidewalk, dan walkway, dijumpai jalur-jalur yang memudahkan pejalan tuna netra, seperti pada foto di bawah ini.

20160924-20160924_115617

Jalur untuk pejalan tuna netra, didesain agar mudah diindra menggunakan tongkat Foto: Kurniawan, 2016)

Angkutan umum, seperti bus, subway, tram dan kereta api, juga memfasilitasi penumpang yang menggunakan kursi roda.

Di Indonesia sendiri, meski pemerintah sudah menggalakkannya, belum ada kesadaran luas. Memang beberapa pemerintah daerah sudah menyediakan fasilitas, meski terbatas. Tetapi sayanganya fasilitas ini malah disalahgunakan. Disetujuinya RUU tentang Penyandang Disabilitas (pengganti UU tahun 1997 tentang Penyandang Disabilitas) setidaknya memberikan harapan kepada kaum difable.


Lihat Part 1 | Part 2 | Part 3 | Part 4 | Part 5 | Part 6 | Part 7

Advertisements

6 thoughts on “Kok gitu? Unglaublich… Ok deh …. (5)

  1. Pingback: Kok gitu? Unglaublich… Ok deh …. (7) | Kurniawan's Page

  2. Pingback: Kok gitu? Unglaublich… Ok deh …. (6) | Kurniawan's Page

  3. Pingback: Kok gitu? Unglaublich… Ok, deh …. (Part 1) | Kurniawan's Page

  4. Pingback: Kok gitu? Unglaublich… Ok deh …. (Part 2) | Kurniawan's Page

  5. Pingback: Kok gitu? Unglaublich… Ok deh …. (Part 3) | Kurniawan's Page

  6. Pingback: Kok gitu? Unglaublich… Ok deh …. (Part 4) | Kurniawan's Page

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s