Menelurusi Jejak-Jejak Hubungan Indonesia-Jerman

Giessen an de Lahn – Secara formal, hubungan Indonesia-Jerman resmi dimulai sejak hubungan diplomatik dengan Jerman Barat dibuka melalui pembukaan Perwakilan RI di Bonn di tahun 1952. Indonesia juga menjalin hubungan diplomatik dengan Jerman Timur di tahun 1976. Setelah re-unifikasi Jerman (dimana Indonesia merupakan salah satu pendukungnya), hubungan antara kedua negara makin meningkat; tidak hanya perdagangan dan sosial budaya, tetapi juga politik, ekonomi, investasi dan pendidikan.

20150814-20150814_160642

Indonesia-Jerman (Foto: Kurniawan, 2015)

Jika ditilik ke belakang, hubungan Indonesia-Jerman telah terjalin sejak berabad-abad yang lalu. Sejak abad ke-19, ribuan orang berkebangsaan Jerman bermigrasi ke Hindia Belanda. Mereka bekerja sebagai pegawai administrasi, insinyur, tenaga teknis, ilmuwan dan peneliti. Namun jauh sebelumnya, pada abad ke-16, banyak pedagang Jerman yang menumpang kapal Belanda dan Portugis mendatangi wilayah Nusantara.

Deutsche Botschaft memaparkan bahwa Balthasar Sprenger, dari kamar dagang Kerajaan Jerman, tercatat sebagai orang Jerman pertama yang mengunjungi Hindia Belanda di tahun 1506. Kunjungan ini kemudian diikuti oleh orang Jerman lainnya yang ikut mewarnai sejarah bangsa Indonesia. Salah satu gubernur Batavia yang paling dikenal, Wilhelm Gustav van Imhoff (1705-1750), adalah orang Jerman dan yang membangun kota Bogor. Kebun Raya Bogor yang juga sangat dikenal dunia juga dirancang oleh seorang ilmuwan Jerman, Casper Georg Carl Reinwardt (1733-1854). Beberapa tokoh terkenal jerman, seperti Johann Wolfgang van Goethe dan Friedrich Schiller, mempunyai hubungan erat dengan Indonesia. Nama negara ini juga dipopulerkan oleh orang Jerman, Adolf Bastian, yang dalam laporan-laporannya selalu menyebut “Hindia“ yang disambung dengan kata bahasa Yunani “nesus“ yang berarti pulau.Sejak tahun 1872 telah dibuka Konsulat Kerajaan Jerman di Hindia Belanda .

Hindia Belanda semakin menjadi perhatian publik Jerman saat Pemerintah Belanda mengirim Raden Saleh untuk studi keliling Eropa, termasuk ke Dresden, Jerman, tahun 1839. Ia pertama memamerkan lukisannya di Museum Lindenau dekat Altenburg. Pamerannya sukses besar, sehingga ia tertahan cukup lama karena menerima banyak pesanan dan bisa bekerja sebagai seniman lepas tanpa tergantung pada Belanda. Di Dresden, dia dianggap sebagai seniman dan warga Jerman, suatu hal yang tidak umum mengingat masih kuatnya diskriminasi latar belakang dan warna kulit. Raden Saleh juga mempelopori munculnya aliran lukisan orientalis di Jerman (DeutschWelle). Dari Raden Saleh inilah, publik Jerman lebih mengenal nusantara.

Pemberlakuan Politik Etis (1901-1942) memberi kesempatan ratusan pelajar Indonesia menuntut ilmu di negeri Belanda. Kesempatan ini juga dimanfaatkan sejumlah pelajar untuk menambah ilmu dan keahliannya sampai ke negeri Jerman. Salah satunya adalah Dr. K.R.T. Radjiman Wedyonigrat. Beliau adalah salah seorang perintis kemerdekaan dan Ketua BPUPKI (Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia). Harry A. Poeze dalam bukunya “Orang Indonesia di Negeri Penjajah 1600-1950”, menulis bahwa Radjiman tiba di Negeri Belanda pada bulan Oktober 1909 untuk belajar ilmu kedokteran. Selain di Belanda, Radjiman memperdalam keahliannya hingga ke Berlin dan Paris. Beliau pun lulus menjadi dokter ahli bedah, ahli ilmu bersalin, dan ahli penyakit kandungan.

Hubungan Indonesia-Jerman di zaman kolonial ini mengalami dinamika yang unik saat Belanda dikuasai Nazi Jerman pada Perang Dunia II. Di Belanda, banyak pelajar Indonesia yang mengalami kesulitan dalam studi dan harus berpindah-pindah menghindari kejaran Gestapo karena menolak mengikuti sumpah kesetiaan kepada Hitler. Bahkan beberapa pelajar Indonesia bergabung dengan gerakan bawah tanah dan milisi bersenjata bersama mahasiswa Belanda melawan pendudukan Nazi. Penolakan  ini karena mereka memandang bahwa Nazi adalah penjajah yang harus diperangi, sedangkan Indonesia juga sedang berjuang untuk lepas dari penjajahan. Majalah Historia mencatat, pelajar seperti L. N. Palaar, Soemitro, Zairin Zain, Kusna Puradireja, Jusuf Muda Dalam, Irawan Soejono, Soeripno, dan lain-lain aktif dalam kegiatan proaganda dan spionase melawan Nazi, bahkan bergabung dengan paramiliter bentukan mahasiswa Belanda. L.N. Palaar, Soemitro, dan beberapa pelajar lainnya memperoleh penghargaan dari Pemerintah Belanda atas jasa-jasanya ini, namun kemudian dikembalikan karena Pemerintah Belanda tetap ingin melanjutkan kolonialismenya di Indonesia. Sedangkan Irawan Soejono yang gugur karena ditembak tentara Nazi, namanya diabadikan sebagai nama jalan, Irawan Soejonostraat, di Amsterdam.

Berbeda dengan di negeri Belanda, Nazi Jerman sendiri memiliki hubungan yang baik dengan Indonesia yang pada waktu itu dijajah Jepang. Horst Henry Geerken (sahabat dekat Presiden pertama Soekarno) mengungkapkan pemimpin NAZI Jerman, Adolf Hitler, pernah bekerja sama dengan tokoh pergerakan dalam hal persenjataan. Hitler pernah mengirim senjata lewat kapal selam pada tahun 1940-an. Senjata-senjata tersebut dikirim kepada Soekarno pada kurun waktu 1942 hingga 1945 untuk membantu pasukan PETA. Memang kabar dari beberapa weblog ini belum bisa dikonfirmasi kebenarannya karena bercampur dengan berita yang sifatnya kabar angin dan spekulasi. Namun melihat hubungan aliansi Jerman-Jepang dalam Perang Dunia II, kabar ini cukup masuk akal. Apalagi beberapa persenjataan khas angkatan bersenjata Jerman (Wehrmacht), seperti senapan Mauser M1898K berlogo Wehrmacht dan sub-machine gun MP-40 sempat digunakan pada perang kemerdekaan dan sekarang masih tersimpan di beberapa museum. Selain itu ada fakta unik seputar Proklamasi 17 Agustus 1945. Mesin tik yang digunakan untuk mengetik naskah proklamasi dipinjam dari Dr. Hermann Kendeler, dari Kriegsmarine (angkatan laut) Jerman.

Dalam perang kemerdekaan (1945-1949), ada puluhan orang Jerman yang memihak Indonesia. Diantaranya adalah anggota Kriegsmarine (angkatan laut) dari kapal selam U-219 dan pelarian Pulau Onrust. Mereka melatih kesatuan militer Indonesia dalam hal latihan fisik, bahasa, ketrampilan morse, pembuatan peledak, dan sebagainya (Historia). Meski mungkin keterlibatan mereka karena adanya musuh bersama, tapi paling tidak mereka memberikan ketrampilan dan pengalaman berharga bagi pejuang-pejuang kemerdekaan.

Pasca perang kemerdekaan tahun 1949, banyak mahasiswa Indonesia melanjutkan studi di Jerman, baik dengan beasiswa pemerintah Indonesia, pemerintah Jerman, atau biaya sendiri. Para lulusan Jerman ini menyumbangkan keahliannya bagi pembangunan Indonesia yang baru berdiri hingga sekarang, termasuk di antaranya B.J. Habibie (RWTH Aachen, lulus 1965), L. Manik (Freie Universitaet di Berlin Barat, lulus 1968), dan ribuan lainnya.

Jerman Barat, pada waktu itu, juga menjadi tempat bagi pelajar Indonesia yang mencari suaka. Dulunya, Mahasiswa Ikatan Dinas (Mahid) ini dikirim oleh Presiden Soekarno untuk belajar di Uni Soviet, Cekoslovakia, Polandia, dan negara-negara Blok Timur lainnya. Namun akibat pergantian pemerintahan dan situasi politik yang berubah haluan, mereka tidak dapat kembali ke tanah air. Dan atas nama kemanusiaan dan kebebasan, sebagian dari mereka diterima menjadi warga negara Jerman Barat. Meski telah menjadi WNA, mereka tetap memiliki perhatian dan all-out dalam membantu Indonesia, baik dalam bidang kebudayaan, promosi pariwisata, maupun membantu mahasiswa Indonesia di Jerman.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s