Pertanian masih tidak menarik di mata pemuda

Giessen an der Lahn – Pertanian adalah sektor yang makin tidak menarik bagi siapa pun di hampir semua negara, termasuk Indonesia.

Di Indonesia sendiri, petani sudah semakin menua. Hasil sensus pertanian 2013 menunjukkan bahwa berdasarkan struktur umur, petani Indonesia didominasi oleh petani tua dan berpendidikan rendah. Sekitar 60.8 persen petani telah berumur di atas 45 tahun , dan 73.79 persen berpendidikan SD dan memiliki akses teknologi yang sangat terbatas.

Sementara Koalisi Rakyat untuk Kedaulatan Pangan (KRKP) melaporkan bahwa di survey tahun 2016, 50% petani padi dan 73% petani hortikultura tidak ingin anaknya menjadi petani. Anak-anak petani pun ragu-ragu untuk meneruskan usaha ayahnya. Akibatnya jumlah rumah tangga petani turun sekitar 5 juta rumahtangga untuk periode 2013-2014. Sementara pekerja di sektor pertanian turun 3.15 juta pada periode 2010-2014.

16810695775_6bd2122c29_o

Petani sedang mempersiapkan pertanaman di lahan rawa Kalimantan Selatan (Foto: Kurniawan, 2014)

Di tengah akses dan penyediaan teknologi pertanian yang terbatas, kenyataan ini membahayakan penyediaan pangan. Generasi muda merupakan aset terbesar dalam pembangunan pertanian dan penyedia pangan. Jika mereka enggan dan ragu-ragu menjadi petani, kerawanan pangan akan terjadi.

Persoalan ini tidak hanya terjadi di negara-negara berkembang saja, tetapi juga di Uni Eropa. Rata-rata petani di Uni-Eropa adalah petani swasta dan koperasi (cooperative), serta beberapa petani yang yang lebih berfungsi untuk sosial kemanusiaan. Szelesky (2009) melaporkan bahwa di Uni Eropa sekitar 55% petani swasta berumur lebih dari 55 tahun.  Portugal memiliki persentasi tertinggi (73.4%) sedangkan Austria terendah (kurang dari 30%). Trend menunjukkan bahwa jumlah petani muda semakin turun sementara petani tua cenderung meningkat.

Data tersebut semakin mencemaskan Uni-Eropa karena ini berkaitan dengan penyediaan pangan bagi penduduknya. Untuk itulah setiap negara Uni-Eropa menggelontorkan dananya untuk men-support petani muda. Antara periode 2000-2006 sampai 2007-2013, ternyata peningkatan pengeluaran pemerintah berkali-kali lipat untuk program dukungan petani  muda, terutama Hungaria, Romania, dan Polandia. Jerman sendiri cukup stabil mengingat persentasi petani tuanya termasuk rendah.

Program dukungan petani muda ini diberikan untuk menarik petani muda untuk terjun di bisnis pertanian. Petani muda dapat memperoleh bantuan dengan syarat:

  • Menjadi pemimpin di suatu lahan pertanian dan menemukan/mengambil alih lahan pertanian yang cocok.
  • Memiliki lahan pertanian minimum 4 ESU (ESU = economic size unit, 1 ESU = 1,200 euro Standard Gross Margin).
  • Memiliki pendidikan di bidang pertanian, baik kejuruan atau lulusan universitas.
  • Memiliki perencanaan bisnis.
  • Tetap bertani paling tidak 5 tahun sejak penandatanganan kontrak.

Dukungan dananya pun bervariasi berdasarkan luas usaha. Misalnya jika luasnya 4-7 ESU akan mendapat bantuan dana 20 ribu euro. Petani muda  yang diwarisi tanah pertanian dari orang tuanya juga memperoleh bantuan, sedang orang tua nya dapat memperoleh pensiun bulanan.

Pemuda biasanya aktif di media sosial. Platform ini pun digunakan untuk promosi dan sosialisasi petani muda . Data dari Rabobank menyebutkan bahwa diantara petani muda (umur 18-35 tahun) yang aktif di media sosial sekitar 76% di USA, 53% di United Kingdom, dan 33% di Australia.

Sementara itu di Indonesia, belum ada gebrakan pemerintah untuk mengatasi menurunnya minat petani muda. Memang Indonesia memiliki sekolah kejuruan pertanian dan peternakan, tetapi bagaimana dengan lulusannya? Gebrakan masih terbatas pada program gerakan membangun desa dimana para pemuda diminta untuk kembali ke desa dan menjadi pendamping dalam kegiatan community development. Sayangnya program ini belum berkelanjutan

Namun demikian, beberapa petani muda menginisiasi semacam perkumpulan dan musyawarah bagi petani muda dan calon petani muda. Sementara itu beberapa pemuda lulusan perguruan tinggi mencoba berkecimpung di dunia pertanian. Dengan memanfaatkan ilmu dan teknologi yang dimiliki, mereka mencoba mengisi gap ini. Hal ini patut diapresiasi mengingat gerakan ini muncul dari bawah, bukan program top-down. Beberapa alumni luar negeri juga berkeinginan untuk berkecimpung di dunia agribisnis.

Semoga langkah-langkah ini paling tidak mampu menarik generasi muda untuk kembali berkecimpung di dunia pertanian.


Reference:

  • Europe for Citizen Programme. 2009. Support for Young Farmer in the European Union. AGRYA.
  • Farming Future Magazine 2015/1
Advertisements

4 thoughts on “Pertanian masih tidak menarik di mata pemuda

  1. Tak sedikit orangtua petani yg mendorong anaknya utk tdk menjadi petani… Ketidakpastian hasil pertanian membuat trauma orangtua petani… Sudah diindonesia kah? Ayo bikin pekerti terkair hal ini 😀

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s