Menggeliatnya eksekutif muda pertanian

Giessen an der Lahn – Hampir semua perekonomian suatu bangsa di dunia ini bermula dari pertanian. Bisa dikatakan bahwa pertanian adalah fondasi awal dari ekonomi setiap negara. Namun, semakin majunya perekonomian suatu  negara, semakin pula pertanian terpinggirkan. Kontribusi pertanian terhadap GDP akan semakin menurun, sehingga tiba di suatu titik bahwa pertanian perlu diselamatkan. Inilah yang terjadi di negara-negara Eropa Barat dengan mekanisme CAP (Common Agricultural Policy)-nya yang berupaya agar petani tetap mau berbisnis pertanian.

Di Indonesia sendiri, kontribusi sektor pertanian terhadap GDP makin menurun, sedangkan contribusi sektor ini terhadap tenaga kerja, masih tetap pada kisaran 50%. Memang jika melihat sejarah negara-negara industri, penurunan kontribusi sektor pertanian ini dinilai wajar sebagai akibat dari transisi dari negara agraris ke negara industri. Namun, ini berbeda dengan Indonesia, saat peran pertanian mulai berkurang, industri masih terseok-seok.

Akibatnya, pertanian yang menurun ini tetap harus bertanggung jawab menghidupi 50% tenaga kerja. Petani makin jauh dari sejahtera, sementara generasi muda makin menjauh dari pertanian. Koalisi Rakyat untuk Kedaulatan Pangan (KRKP) melaporkan bahwa di survey tahun 2016, lebih dari 50% petani padi dan 73% petani hortikultura tidak ingin anaknya mengikuti jejaknya menjadi petani.

Sementara itu, data sensus pertanian tahun 2013 menunjukkan bahwa struktur umur petani didominasi oleh petani tua dengan tingkat pendidikan yang rendah. Sekitar 60.8% petani berumur lebih dari 45 tahun, dan 73.97% hanya berpendidikan SD dengan tingkat akses teknologi yang rendah.

Di sisi lain, program pertanian dari pemerintah terkesan jalan di tempat. Prestasi-prestasi yang didengungkan hanya sebatas pencitraan semata.

Di tengah kegalauan ini, muncul tunas-tunas muda yang mendedikasikan diri di dunia pertanian.

Riza Rahman Hakim

Setelah selesai menempuh S3 di Kasetsart University Thailand, beliau giat mengembangkan urban farming, yaitu budidaya ikan lele di pekarangan. Dosen UMM Malang ini mempromosikan gerakan One House One Pond melalui Budidaya Lele Sistem BIONA. Sistem ini diklaim ramah lingkungan, hemat lahan dan air, hiegienis, siklus hidup lele tinggi, dan tanpa residu. Sistem ini merupakan solusi dari masalah semakin menyempitnya lahan pertanian, masalah pemenuhan protein hewani, dan masalah residu bahan kimia dari pertanian. Beliau menyadari bahwa urban farming merupakan masa depan pertanian dunia.

12715581_10201593356552739_3859299064526559890_n

Gerakan One House One Pond dengan sistem BIONA nya

Gerakan beliau tidak hanya murni akademis dan bisnis saja. Tapi juga sosial dan dakwah. Diantaranya dengan menginisiasi Gerakan Sedekah Kolam. Bersama organisasi keislaman mahasiswa UMM Malang, beliau tergerak untuk mengumpulkan resource guna memberikan sedekah paket kolam ke beberapa pesantren, panti asuhan, dan kelompok masyarakat kurang mampu.

12717841_1111552805546195_390940195321622989_n

Gerakan sedekah kolam

 

Irfan Rahadian Sudayana

Indonesia adalah penghasil kopi terbaik di dunia, yang diekspor ke negara-negara di dunia. Namun, petani kopi masih jauh dari sejahtera. Harga di tingkat petani jauh lebih rendah. Sementara, harga secangkir kopi ternyata cukup mahal.

Irfan pun berinisiatif mengadakan penyuluhan ke petani tentang pentingnya membudidayakan kopi dengan memperhatikan aspek-aspek lingkungan.

Dia pun mendirikan Kiwari Farmers dengan berjasama dengan petani kopi yang menyediakan kopi dengan kualitas “bio”.

Harry Kurniawan Nugraha

Pemuda ini adalah ‘biji’ pengusaha agribisnis di Indonesia, yang baru saja menyelesaikan pendidikan bachelor di Technicshe Hochschule Mittelhessen (THM) Giessen, Jerman. Idenya muncul dari kegalauan melihat bahwa harga komoditas pertanian di Indonesia sangat berfluktuatif dan cenderung merugikan petani kecil. Hal ini kontras sekali dengan apa yang dia amati di Jerman. Harga kebutuhan sehari-hari relatif stabil, murah, dan mudah didapat. Hal ini karena supermarket-supermarket di Jerman langsung bekerjasama dengan petani untuk memasok bahan makanan ke jaringan supermarketnya di seluruh Jerman. Jadi ada tataniaga yang lebih ringkas.

13221485_10205907510716858_7186735006800737302_n

Wegronomy by Harry Kurniawan Nugraha

Sementara itu di Indonesia, banyak rantai tataniaga yang harus dilalui, mulai dari pengepul tingkat desa, agen, pasar induk, hingga pengecer. Akibatnya harga di tingkat konsumen menjadi mahal, terutama di supermarket. Sementara itu, harga di tingkat petani sangat rendah sehingga petani kecil kurang sejahtera. Pemuda ini melihat bahwa, masalah distribusi produk pertanian ke konsumen sebagai masalah yang harus dibenahi.

Berdasarkan sensus pertanian 2013, Indonesia memiliki 17.72 juta rumahtangga tani subsektor tanaman pangan dan 10.60 juta rumahtangga petani subsektor hortikultura. Mereka mendedikasikan dirinya untuk menjamin ketersediaan pangan bangsa kita. Namun kenyataannya banyak dari mereka yang hidup tidak layak. Kerja keras mereka tidak dihargai dengan harga panen yang layak. Di lain pihak, konsumen harus mengeluarkan biaya ekstra untuk mengakses hasil pertanian yang berkualitas.

Dengan hasrat ingin menolong pertani kecil, pemuda ini membuat start-up bisnis, Wegronomics. Idenya adalah bekerjasama dengan petani kecil untuk menyediakan produk pertanian yang diperlukan konsumen dengan harga bersaing, segar, terkemas rapi, serta hiegenis.

Harry, dengan bendera Wegronomics-nya, mulai merangkul teman-teman yang sedang kuliah di Jerman dan ahli di segala bidang, seperti bisnis, kedokteran, gizi, bioteknologi, pertanian, dan lain-lain. Ini juga merupakan bentuk kontribusi alumni dan diaspora di Jerman untuk pembangunan Indonesia.

Nantinya, Wegronomics ini akan terintegrasi dengan Filosofood.com sebagai provider dan delivery service berbasis smartphone, untuk menyalurkan produk pertanian ke konsumen, baik dalam bentuk segar maupun olahan.

Filosofood

Filosofood.com by Harry Kurniawan Nugraha, B.Sc and Dr.rer.nat. Agus Chahyadi

Tentu saja jalan yang ditempuh tidaklah mudah. Namun cukuplah menjadi penguat bahwa suatu hari nanti kita semua dapat mengakses pangan berkualitas dengan mudah. Dan senyum kebahagiaan dari petani-petani kecil merupakan imbalan yang tak ternilai harganya.

Dan jika pun kita tidak menikmatinya, mudah-mudahan anak cucu yang akan menikmatinya. Seperti yang dikatakan Bang Ricky Elson, kita bekerja membanting tulang untuk negeri ini bukan agar kita hidup lebih baik, tapi agar anak dan cucu kita bisa hidup lebih baik.

Bukankah Rasulullah pernah bersabda: Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain (HR. Ahmad, ath-Thabrani, ad-Daruqutni).

Advertisements

2 thoughts on “Menggeliatnya eksekutif muda pertanian

  1. Memang msh sedikit yg bgtu tertarik dg pertanian, itulah faktanya. Sebelum orang mnydari akan arti pntingnya suatu hal, biasanya bgtulah. Pdhal prtnian sangat pnting. Tapi tak apalah, bukankah itu justru akan lbih menjadi tantangan tersendiri bagi mreka yg memang bergelut di bidang prtanian slma ini, khususnya para lulusan skolah/pendidikan prtanian.

    Like

    • Benar, Mas.
      Sebenarnya tidak sedikit lulusan sarjana pertanian yang masih tertarik di bidang pertanian. Tapi banyak menghadapi kendala, biasanya modal. Biasanya begitu lulus, mereka “terpaksa” mencari kerja di luar bidang pertanian. Tapi, ternyata setelah 5-10 tahun, mereka mulai berinvestasi di bidang pertanian, entah membuka kebun dan sawah, menjadi penyalur pupuk, pengolahan dan distribusi hasil pertanian, dsb.

      Sebenarnya anggapan lulusan pertanian banyak yang tidak bekerja di bidang pertanian juga kurang tepat. Mereka ini hanya mengumpulkan modal untuk beragribisnis. Jadi setelah mereka mapan secara finansial, baru berinvestasi.

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s