Kok gitu? Unglaublich… Ok deh …. (6)

DISCLAIMER…!!!
Tulisan ini hanya berdasarkan dari pengalaman dan pengamatan sepintas yang dangkal, serta cerita dari beberapa teman yang sudah lama menetap di Jerman. Ini tidak menggambarkan sifat orang Jerman dan Indonesia secara umum.

Giessen – Dalam pergaulan dengan orang Jerman, ada beberapa hal yang membuat masing-masing dari kita hanya geleng-geleng kepala.

Surat Izin Mengemudi

Di Indonesia, lumayan mudah dan murah memperoleh SIM (Surat Izin Mengemudi). Cukup sekali ujian tertulis dan praktik, dalam waktu seminggu bisa mengantongi SIM dengan biaya tak sampai Rp 150 ribu. Bahkan bisa juga dengan cara tembak. Dengan uang sekitar Rp 600 ribu bisa dapat SIM A dan SIM B sekaligus, tanpa ujian.

Di Jerman, mendapatkan SIM (Führerschein) bukan hal yang mudah dan biayanya pun tidak murah. Biayanya sekitar 2000 – 4000 euro (Rp 30-60 juta), tergantung dari berapa jam kelas teori dan praktek yang diikuti. Ujian teori dan prakteknya pun tidak gampang. Pengemudi di Jerman juga memiliki sanksi yang berat. Pelanggaran berat, seperti mengemudi dalam keadaan mabuk, dapat berakibat pada pencabutan SIM, sementara atau selamanya. Bahkan, mengendarai sepeda (sekali lagi: sepeda, bukan sepeda motor) dalam keadaan mabuk pun dapat mengakibatkan pencabutan SIM ini. Jika dicabut, jangan harap bisa membuat SIM lagi di seluruh negara Uni Eropa.

Mengendarai mobil tapi tidak punya SIM? Siap-siap kena denda deh. Dendanya pun tidak main-main. Seorang pemain sepakbola timnas  Jerman  pernah didenda 540.000 euro (lebih dari Rp 7 milyar) karena berkendara tanpa memiliki SIM selama 3 tahun.

Itulah mengapa SIM Jerman diakui di hampir seluruh dunia. Dan pemerintah Jerman pun tidak ragu-ragu melanjutkan aturan mengemudi tanpa batas kecepatan di jalan tol (autobahn). Tapi resiko ditanggung pengemudi.

Du atau Sie

Bahasa Jerman (Hochdeutsch) memiliki dua tingkatan, yaitu formal dan informal. Du dan Sie memiliki arti yang sama, yaitu: “kamu”. Hanya saja Du biasa dipakai untuk orang yang setara atau di bawah (atau informal), sedangkan Sie dipakai untuk urusan formal dan ditujukan ke orang yang dihormati. Menggunakan Du kepada polisi atau pegawai pemerintah bisa dianggap sebagai pelecehan dan penghinaan. Jadi…, hati-hatilah, dan makin semangatlah belajar bahasa Jerman

Ini sama juga dengan di Indonesia. Menggunakan kata kamu atau elu, kepada polisi atau ASN bisa dianggap melecehkan dan menghina. Bisa-bisa malah ngambek dan tidak mau melayani.

Perang bantal

Di Jerman, bantal dianggap sebagai senjata pasif, sehingga bisa disetarakan dengan baju pelindung, rompi anti peluru, atau rompi anti pisau. Jadi, menyerang orang dengan bantal secara berlebihan, meski hanya dalam permainan perang bantal, bisa dianggap sebagai tindakan kriminal.

Di Indonesia, perang bantal, ya… perang bantal. Habis perkara. Asal tidak dipakai untuk membunuh.

Mogok kerja pegawai transportasi

Pegawai transportasi umum, entah kereta api atau bis, memiliki hak untuk mogok kerja di Jerman. Mogok kerja terjadi jika tidak tercapai kata sepakat dalam perundingan antara asosiasi pegawai dengan perusahaannya, misalnya tentang kenaikan gaji. Hanya saja, mogok kerja dilakukan tidak boleh sampai memberhentikan seluruh sistem angkutan bus dan kereta api. Minimal 30 persen angkutan harus tetap beroperasi. Biasanya kemungkinan pemogokan diumumkan jauh-jauh hari. Pemogokan bisa berlangsung dari sehari sampai dua minggu. Namun, pemogokan dilarang untuk pekerja yang berstatus pegawai negeri (beamte).

Jika pemogokan terjadi pada angkutan udara, seperti pemogokan pilot, flight attendance, atau ground/security staff, maka biasanya akan melumpuhkan seluruh aktivitas penerbangan maskapai tersebut. Seperti yang menimpa Luftansa, seluruh penerbangannya di dunia akan dibatalkan. Ini tentu saja merugikan semua konsumen yang sudah memesan tiket jauh-jauh hari.

20170110-20170110_095928

Berjalan menembus salju karena pemogokan supir bus di Giessen pada Januari 2017 (Foto: Kurniawan, 2017)

Di Indonesia, umumnya pemogokan dilakukan secara serentak. Bahkan mode angkutan lain juga ‘dipaksa’ untuk ikut mogok sebagai aksi solidaritas. Tujuannya agar terjadi kekacauan dan permintaan pekerja transportasi terpenuhi. Untungnya pemogokan biasanya cuma sehari atau dua hari.


Lihat Part 1 | Part 2 | Part 3 | Part 4 | Part 5 | Part 6 | Part 7

Advertisements

6 thoughts on “Kok gitu? Unglaublich… Ok deh …. (6)

  1. Pingback: Kok gitu? Unglaublich… Ok deh …. (7) | Kurniawan's Page

  2. Pingback: Kok gitu? Unglaublich… Ok, deh …. (1) | Kurniawan's Page

  3. Pingback: Kok gitu? Unglaublich… Ok deh …. (2) | Kurniawan's Page

  4. Pingback: Kok gitu? Unglaublich… Ok deh …. (3) | Kurniawan's Page

  5. Pingback: Kok gitu? Unglaublich… Ok deh …. (4) | Kurniawan's Page

  6. Pingback: Kok gitu? Unglaublich… Ok deh …. (5) | Kurniawan's Page

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s