Kok gitu? Unglaublich… Ok deh …. (7)

DISCLAIMER…!!!
Tulisan ini hanya berdasarkan dari pengalaman dan pengamatan sepintas yang dangkal, serta cerita dari beberapa teman yang sudah lama menetap di Jerman. Ini tidak menggambarkan sifat orang Jerman dan Indonesia secara umum.

Giessen – Dalam pergaulan dengan orang Jerman, ada beberapa hal yang membuat masing-masing dari kita hanya geleng-geleng kepala.

Hari Nasional/Kemerdekaan

Hampir setiap negara memiliki dan memperingati hari kemerdekaan atau hari nasional, termasuk Indonesia. Hari kemerdekaan merupakan hari libur nasional, dirayakan dengan meriah dan penuh suka cita. Bendera dikibarkan di setiap rumah, perkantoran, dan sepanjang jalan.

Bagaimana dengan Jerman? Apakah mereka memiliki hari kemerdekaan atau hari nasional? Mengingat apa yang telah terjadi selama Perang Dunia I dan II, apakah mereka merayakannya?

Jerman tidak memiliki hari kemerdekaan atau hari nasional secara khusus. Tetapi memiliki apa yang disebut dengan Hari Reunifikasi Jerman (Tag der Deutschen Einheit), yang dirayakan setiap 3 Oktober.

Hari unifikasi ini dilatarbelakangi runtuhnya Holy Roman Empire (Sacrum Imperium Romanum) di tahun 1806 dan wilayah Jerman terpecah menjadi beberapa region yang masing-masing dipimpin raja, bangsawan dan panglima. Adanya gerakan nasionalisme Jerman membuat region-region berbahasa Jerman bersatu (unifikasi) dalam satu Kekaisaran Jerman (Deutsches Kaiserreich) di tahun 1870 dengan Raja Prussia sebagai Kaisar Wilhelm I . Kekaisaran ini juga dikenal dengan Kekaisaran Kedua (Zweiter Reich). Pada masa ini, hari unifikasi ini diperingati setiap tanggal 2 September. Setelah kekaisaran dibubarkan pasca kekalahan Perang Dunia I dan berganti menjadi Republik Weimar (1919-1933), hari unifikasi ini diperingati setiap 11 Agustus yang juga sebagai hari ditandatanginya konstitusi Jerman modern.

Di era NAZI (1933-1945), hari unifikasi ini dihilangkan dan diganti menjadi hari buruh (May Day) yang diperingati setiap 1 Mei. Tahun 1939, Hitler mengumumkan 9 November, hari dimana Hitler melakukan kudeta 1923 (yang gagal) di Munich, sebagai hari nasional Jerman.

Di era Perang Dingin, Federal Republic of Germany (FRG – Jerman Barat) memperingati hari unifikasi (Tag der deutschen Einheit, dengan “d” kecil)  setiap 17 Juni untuk mengenang protes massal masyarakat Jerman Timur yang ingin bergabung dengan Jerman Barat di tahun 1953. Sedangkan di German Democratic Republic (GDR – Jerman Timur) memperingatinya setiap tanggal 7 Oktober (dikenal dengan Hari Republik). Setelah reunifikasi Jerman tahun 1990, Tag der Deutschen Einheit (dengan “D” kapital) diperingati setiap 3 Oktober.

Berbeda dengan hari kemerdekaan/nasional negara lain yang dirayakan di seantero penjuru negari, perayaan Tag der Deutschen Einheit hanya dipusatkan di satu ibukota negara bagian (atau kota besar) tertentu dan digilir tiap tahunnya. Tahun 2015 yang lalu dirayakan di Frankfurt, dan tahun 2016 di Dresden. Sedangkan di kota-kota lain terlihat sepi seperti halnya hari libur lainnya. Tidak terlihat kibaran bendera Jerman di jalan-jalan. mobil, dan perumahan.

Bangsa Jerman memang tidak menunjukkan patriotisme dengan mengibarkan bendera Jerman di rumah-rumah dan perkantoran, atau memasang bendera kecil di mobil-mobil. Mereka menunjukkannya dengan memvoting (memilih) pengenaan pajak yang lebih tinggi bagi mereka sendiri agar fasilitas kesehatan dan pendidikan dapat diakses oleh semua kalangan, termasuk kelompok yang kurang beruntung. Dan saling membantu agar tercipta ruang hidup yang bersih, teratur dan rapi.

Veteran Perang Dunia

“Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai pahlawan-pahlawannya” – Sukarno.

Indonesia cukup menghargai para pahlawan dan veteran perang kemerdekaan (meski baru sebatas simbol). Paling tidak dengan memberikan bintang jasa, gelar pahlawan, diabadikan sebagai nama jalan, dikebumikan di taman makam pahlawan, dan menjadikannya sebagai suri tauladan yang baik. Meski penghargaan masih belum sampai pada taraf menyejahterakan semua veterannya.

Bagaimana pemerintah dan masyarakat Jerman memperlakukan para veterannya, mengingat pengalaman buruk dalam Perang Dunia Pertama dan Kedua?

DSCN3749

Monumen untuk menghormati veteran di Klein-Linden, Giessen. Pada prasasti tertulis: “Yang telah meninggal mengingatkan yang hidup untuk hidup bersama, bukan saling berperang. Kami menghormati kebebasan dan bekerja keras untuk kedamaian bukan untuk berperang lagi. 1 September 1990″ (Foto: Kurniawan, 2014)

Umumnya para veteran perang, terutama Perang Dunia II, tidak terlalu suka menceritakan apa yang mereka alami, bahkan kepada anak cucunya sendiri. Mereka menganggap bahwa pengalaman selama Perang Dunia II merupakan tindakan yang memalukan. Mereka juga cenderung menyembunyikan diri mengingat beberapa veteran yang diduga perwira SS Nazi masih diburu sebagai penjahat perang.

Pemerintah Jerman sendiri tidak memberikan semacam bintang jasa kepada veteran perang dunia. Dan veteran pun “menolak” bintang jasa tersebut mengingat perbuatan mereka masa lalu bukan merupakan tindakan yang membanggakan. Mereka bergabung ke militer karena doktrinasi Nazi. Sehingga, kebangkitan kelompok dan partai ultra-nasionalis akhir-akhir ini, seperti Pegida dan AfD, membuat mereka khawatir karena fenomena ini mirid dengan munculnya partai NSDAP yang merupakan cikal bakal NAZI.

Meski demikian, sebagaimana manula lainnya, veteran menerima tunjangan sosial. Selain itu, Hari Veteran atau Hari Berkabung (Volkstrauertag) masih diperingati setiap hari minggu ke-2 di bulan November sejak tahun 1922 untuk mengenang para prajurit yang gugur selama perang dan rakyat sipil yang menjadi korban perang atau korban penindasan.


Lihat Part 1 | Part 2 | Part 3 | Part 4 | Part 5 | Part 6 | Part 7

Advertisements

9 thoughts on “Kok gitu? Unglaublich… Ok deh …. (7)

  1. Pingback: Kok gitu? Unglaublich… Ok deh …. (6) | Kurniawan's Page

  2. Pingback: Kok gitu? Unglaublich… Ok deh …. (5) | Kurniawan's Page

  3. Pingback: Kok gitu? Unglaublich… Ok deh …. (4) | Kurniawan's Page

  4. Pingback: Kok gitu? Unglaublich… Ok deh …. (3) | Kurniawan's Page

  5. Pingback: Kok gitu? Unglaublich… Ok deh …. (2) | Kurniawan's Page

  6. Pingback: Kok gitu? Unglaublich… Ok, deh …. (1) | Kurniawan's Page

  7. Pingback: Movievaganza :Dunkirk and The Teacher’s Diary – me and my story

    • Saya belum nonton sih… Mudah-mudahan nanti ada kesempatan.
      Perang memang menyedihkan bagi kedua belah pihak. Guru bahasa Jerman saya dulu pernah cerita bahwa saudara laki-laki neneknya dipaksa masuk Hitler Youth. Dia dikirim ke Berlin tepat 2 hari sebelum Jerman mengibarkan bendera putih. Umurnya saat itu 15 tahun, dan dia tidak pernah kembali. Katanya banyak anak-anak remaja yang baru pegang senjata langsung dikirim ke garis depan, dan mereka tidak pernah kembali setelah perang usai.

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s