Pertanian Jerman di era NAZI (1): Pra-perang (1933-1939)

Giessen an der Lahn – Partai NAZI berkuasa sejak 1933 saat Hitler ditunjuk menjadi chancellor (kanselir) karena partainya memenangi pemilu, kemudian Hitler menunjuk dirinya sebagai Führer, dan dimulailah pemerintahan diktator. Pada awalnya, NAZI memperoleh dukungan rakyat Jerman karena berhasil membangkitkan perekonomian Jerman yang terpuruk akibat Perang Dunia I dan Perjanjian Versailles. Kebangkitan ini juga tak lepas dari kebangkitan sektor pertaniannya. Bagaimanakah sektor pertanian di era NAZI?

Pandangan NAZI tentang pertanian

Di awal pembentukannya, NAZI mempromosikan slogan ‘Blut und Boden‘ (darah dan tanah) yang menekankan bahwa orang Jerman asli (ras Arya) ‘muncul dari tanah’, yaitu berlatar belakang keluarga petani dan tinggal di pedesaan (kemudian berkembang menjadi yang memiliki nenek moyang petani). Ini efektif untuk mengajak orang-orang di pedesaan dan perkotaan untuk bergabung. Hitler ingin agar orang Jerman bangga dengan kehebatan masa lalu nenek moyangnya yang bekerja di pertanian.

Sebenarnya slogan ini sudah ada sejak Perang Dunia I sebagai slogan nasionalisme yang didoktrinkan kepada para pemuda yang dikirim untuk berlibur di pedesaan dan membantu pada petani lokal. Kemudian gerakan ini ditiru oleh Hitlerjungend (Hitler Youth Movement).

Dalam slogan ‘darah dan tanah’ ini, posisi petani dan pekerja di pedesaan ditempatkan di atas pekerja perkotaan. NAZI banyak menggaungkan keberanian pemberontakan petani kecil di abad pertengahan yang berhasil mendongkel kaum feodal si penindas.

Wanita Arya murni digambarkan sebagai wanita yang berotot, kuat dan berkulit lebih gelap karena matahari yang merujuk pada wanita pedesaan. Wanita ini akan melahirkan lebih banyak ras Arya unggul untuk pemerintahan NAZI (Third Reich)  dibandingkan wanita kota.

NAZI menganggap kemunduran yang terjadi pada komunitas pedesaan diakibatkan karena petani terjebak hutang pada rentenir Yahudi sehingga banyak lahan pertanian yang beralih tangan menjadi milik orang Yahudi. Akibatnya mereka terpaksa pindah ke kota dan kehilangan identitasnya sebagai petani dan ke-Arya-annya.

Slogan ini juga menjadi alasan kampanye ‘lebensraum‘ (ruang hidup), dimana orang-orang Slav (di wilayah Eropa Timur dan Uni Sovyet) dianggap tidak mengerti bagaimana bertani dengan baik dan hanya ras Arya murni yang mampu menjadikan lahan tersebut menjadi pusat produksi pangan.

Sektor pertanian ini berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi yang tinggi dan penurunan pengangguran di tahun 1935 terutama di pedesaan. Pada masa ini Jerman mengalami Wirthschaftswunder (keajaiban ekonomi) berbanding terbalik dengan USA dan negara-negara Eropa Barat lain.

Kebijakan pertanian pra-perang (1933-1939)

Kebijakan pertanian NAZI dirancang dan dijalankan oleh Menteri Nutrisi dan Pertanian, Richard Walther Darré, berdasarkan prinsip ‘darah dan tanah’. Kebijakan ini juga dikenal dengan Darré Plan.

Tahun 1933, diberlakukan Reich Heredity Farm Law, yang berprinsip bahwa komunitas pertanian adalah sumber darah bagi orang Jerman. Kebijakan ini juga bertujuan melindungi ribuan petani kecil dan persaingan. Pertanian dengan luas lebih dari 12 hektar digolongkan sebagai ‘heredity farm‘, dimana lahan tidak boleh dibagi meski pemiliknya meninggal dan lahan harus diberikan ke anak tertua. Petani kecil juga diberi bantuan finansial untuk tetap bertani dan tinggal di pedesaan. Kelemahan dari kebijakan ini adalah tanah tidak boleh dijual atau diagunkan untuk kredit, dan petani tak ubahnya sebagai pengelola (bukan pemilik).

Kebijakan ini juga bertujuan untuk menghindari urbanisasi dan melindungi petani kecil dari utang dan pengambilalihan petani besar. NAZI menggelontorkan dana 650 juta ReichMark untuk membebaskan petani kecil dari utang.

NAZI mendirikan Reichsnährstand (Reich Food Corporation) untuk mengatur produksi pertanian dan mendistribusikannya, menetapkan harga, sekaligus mengkampanyekan Erzeugungsschlacht (battle for production).

 

4020009_ernte-gross

Petani di Bavaria mengumpulkan panen di tahun 1935 (Foto: geopark-ries.de)

Impor semakin dikurangi terutama pakan ternak, sehingga tingkat ketergantungan terhadap impor turun 39% di tahun 1935 dibandingkan tahun 1932. Sampai 1937, Jerman masih mengandalkan 15% pangan dari impor (25% jika pakan ternak dimasukkan). Penurunan impor pakan ini menyebabkan produksi susu dan daging turun. Untuk  mengatasinya, ilmuwan mencoba mengolah pulp kayu dan kemudian pulp bit gula menjadi pakan ternak.

Anggota HJ (Hitler Youth) dan BDM (Legue of German Girl), terutama di perkotaan, disarankan untuk bekerja membantu petani lokal di pedesaan selama libur sekolah. Ini berguna untuk menumbuhkan nilai-nilai Jerman dan cinta tanah air. Hampir 2 juta pemuda terpilih untuk mengikuti kegiatan ini.

Kebijakan ini diklaim sukses meningkatkan produksi pangan, meningkatkan swamsembada pangan, menurunkan pengangguran, dan meningkatkan standar hidup. Pendapatan petani meningkat 41% antara 1933-1936, meski masih lebih rendah dari upah di perkotaan.

Namun, keberhasilan ini masih menjadi perdebatan di kalangan sejarawan. Apakah  benar-benar karena kebijakan NAZI semata-mata, atau karena sebab lain, seperti: kemajuan teknologi, perampasan faktor-faktor produksi milik Yahudi dan lawan politik NAZI, dan rampasan dari wilayah berpenduduk non-Jerman. Atau, apakah semua klaim tersebut hanyalah propaganda belaka?

Keberhasilan swasembada pangan dipertanyakan karena diduga ada penjatahan makanan yang ketat. Selain itu, kualitas pangan juga turun karena konsumsi daging, telur, dan mentega mengalami penurunan. Penurunan pengangguran pun dipertanyakan karena pada waktu itu setiap pengangguran wajib bekerja pada apapun lapangan kerja yang disediakan pemerintah.

Setelah tahun 1936, petanian mengalami kemunduran. Upah petani yang lebih rendah dan kondisi pedesaan yang full employment menyebabkan urbanisasi kembali meningkat. Jumlah pekerja pertanian turun dari 1.8 juta di tahun 1933 menjadi 1.4 juta di tahun 1939. Kemudian NAZI memaksa petani-petani kecil untuk bergabung menjadi pertanian besar agar tercapai skala ekonomi dan meningkatkan produksi pangan. Ini bertentangan dengan slogan ‘darah dan tanah’.

Tahun 1939, Darré Plan dihentikan karena dianggap gagal. Hal ini karena kebijakan bersifat otoriter (rantai komando yang ketat dari negara) yang bertentangan dengan prinsip ‘komunitas rakyat’. Kebijakan ini juga membuat petani enggan berinovasi dan berinvestasi karena semua ditetapkan oleh negara. Selain itu, petani menjadi terpecah, dimana petani tua menolak intervensi pemerintah sedangkan petani mudanya antusias dengan penawaran NAZI. Lahan pertanian juga semakin menyusut karena digunakan untuk lapangan terbang militer, tempat pelatihan militer, sistem pertahanan, dan industri senjata. Akibatnya produksi pertanian pun turun dan autarky (swasembada) pun tidak pernah tercapai. Darré  pun dipecat dan tersingkir dari kelompok elit NAZI.

Lihat Bagian 2


Referensi:


 

Advertisements

4 thoughts on “Pertanian Jerman di era NAZI (1): Pra-perang (1933-1939)

  1. Pingback: Hobi berkebunnya orang Jerman | Kurniawan's Views

  2. Pingback: Pertanian Jerman di era NAZI (2): Perang Dunia II (1939-1945) | Kurniawan's Views

    • Iya, Mas. Menarik juga ternyata Hitler sangat tertarik dengan pertanian. Kirain hanya tertarik pada industri senjata saja. Meski ternyata pertanian dipakai untuk tujuan politik dan perang.
      Nantikan lanjutan tulisan saya tentang kebijakan pertaniannya saat perang.
      Terima kasih.

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s