Pertanian Jerman di era NAZI (2): Perang Dunia II (1939-1945)

Giessen an der Lahn – Belajar dari kekalahan Jerman pada Perang Dunia I, NAZI menaruh perhatian besar pada produksi pangan dan distribusinya ke militer garis depan. Karena banyak lahan pertanian terpakai untuk pembangunan dan pelatihan militer, Hitler berpendapat bahwa perang adalah solusi untuk meningkatkan produksi pangan. Ini dilakukan dengan berbagai cara.

Pertama, NAZI mengusai lahan pertanian yang luas dan subur di Eropa Timur dan Uni-Soviet, kemudian penduduknya dibunuh atau dijadikan budak dan lahannya dikolonisasi petani Jerman. Namun rencana ini tidak berjalan dengan baik. Meski tentara Jerman (Wehrmacht) berhasil menguasai lahan luas di Front Timur, tetapi mereka gagal menghancurkan Tentara Merah Uni Sovyet yang perlawanannya semakin meningkat. Tentara Merah juga membakar semua lahan berikut faktor produksi pertanian dalam gerak mundurnya. Akibatnya tanah yang dikuasai gagal dikolonisasi dan produksi pangan malah turun drastis. Ini artinya Hitler harus menyiapkan logistik bagi jutaan tentaranya di Front Timur dan bahan makanan yang dirampas pun dikonsumsi tentaranya di garis depan.

Kedua, NAZI merampas bahan makanan dari wilayah yang dikuasainya. Ini dilakukan secara biadap di Front Timur namun agak lebih beradab di Front Barat . Ini mengakibatkan kelaparan mematikan di Yunani, Polandia, Ukraina, Belarus dan wilayah Uni Sovyet di tahun 1941-1944. Hasil rampasan pangan hanya sedikit dari Front Timur, tapi agak banyak di Front Barat (Perancis).

Ketiga, NAZI mengeluarkan kebijakan mematikan yang mengakibatkan kelaparan jutaan orang untuk menjamin ketersediaan pangan bagi tentara dan orang Jerman. Ini merupakan bagian dari kebijakan der Hungerplan (Kebijakan Kelaparan) dan juga salah satu solusi untuk menyingkirkan ras non-Arya. Kebijakan kelaparan ini dijalankan oleh Herbert Backe yang menggantikan Richard Walther Darré sebagai Menteri Nutrisi dan Pertanian, sehingga dikenal pula sebagai Backe Plan.

Keempat, NAZI menggunakan tahanan perang dan orang-orang yang diperbudak dari wilayah jajahan untuk bekerja di lahan pertanian. Banyak tahanan perang dari Uni Sovyet dan Polandia yang mati karena kelaparan akibat kebijakan ini. NAZI juga menangkap pekerja di Front Timur untuk bekerja bagi Reich termasuk di lahan-lahan pertanian.

Kelima, HJ (Hitler Youth), BDM (League of German Girl) dan anak-anak digunakan sebagai sumber tenaga kerja pertanian dengan berbagai cara. Anak-anak diasramakan di kamp Kinderlandverschickung (KLV) di pedesaan untuk menyelamatkan mereka dari pemboman sekutu, sedangkan HJ dan BDM bekerja membantu petani lokal.

hj-geese01s

Anggota Hitler Youth sedang membantu mengangkut angsa ke pasar. Transportasi dan alat-alat pertanian masih manual karena mesin dipakai untuk perang. Ini menyebabkan produktivitas pertanian rendah (Foto: histclo.com)

Keenam, penjatahan bahan makanan yang efektif (baca: ketat), yang merupakan bagian dari kebijakan der Hungerplan (Kebijakan Kelaparan). Kebijakan ini dipropagandakan demi memenangkan perang, meski banyak sejarawan yang meragukan hal itu karena tujuan Hitler berperang adalah penguasaan lahan dan memusnahkan ras non-Arya.

Ketujuh, pengembangan teknologi diantaranya penemuan sumber protein baru. Ini terlambat dilakukan karena pada awal kekuasaannya, Hitler hanya pecaya bahwa satu-satunya cara peningkatan hasil pertanian adalah melalui perluasan lahan, bukan pengembangan teknologi.

Usaha Pemerintah Jerman (Reich) untuk menyuplai bahan pangan bagi militer dan penduduk sipil Jerman berjalan dengan baik selama tahun pertama perang. Bahkan, keluarga Jerman (ras Arya) memiliki kualitas makanan lebih baik daripada keluarga Inggris. Di tahun-tahun selanjutnya, kualitasnya mulai turun.

Pengeboman sekutu (1944-1945) yang menyasar sistem transportasi (jembatan dan rel kereta api) menyebabkan sistem distribusi pangan kemudian kolaps. Pemerintah Jerman (Reich) sulit mengangkut hasil pertanian dari pedesaan menuju kota. Paling tidak perlu waktu 3 tahun untuk membangun kembali sistem transportasinya. Pupuk pun sulit didapat karena blokade sekutu, sehingga produksi pertanian terus menurun. Ditambah lagi, pengungsi makin meningkat dari wilayah Timur sejak tentara Sovyet mulai mendekati perbatasan timur Jerman. Akibatnya jatah roti per orang pun makin berkurang dari 12.5 kg (Mei 1944) terus menurun drastis sampai mencapai 3.6 kg (April 1945). Jatah daging juga berkurang tajam dari 1.9 kg menjadi 0.6 kg pada periode yang sama. Tidak ada yang sanggup bertahan dengan alokasi sejumlah itu sehingga akitivitas pasar gelap dan pemalsuan kupon jatah pangan pun meningkat meski NAZI dan Gestapo menghukum berat pelakunya. Kasus penyakit seperti TBC karena kurang gizi pun melonjak tajam.

Di akhir perang, sistem produksi dan distribusi pangan mengalami kerusakan total. Rakyat Jerman pun sangat tergantung dengan pasokan pangan dari sekutu (Jerman Barat) dan Uni Sovyet (Jerman Timur). Pada periode ini, Jerman tidak mengekspor bahan pangan sedikit pun. Pertanian Jerman benar-benar hancur dan diperkirakan diperlukan waktu 10 tahun untuk bangkit lagi.

545702511

Petani Jerman sedang membajak lahan di Tiergarten, Berlin, pasca perang tahun 1947 (Foto: gettyimages.de)

Ternyata pertanian di Jerman Barat bangkit lebih cepat 6 tahun dari yang diperkirakan. Tahun 1949, produktivitas lahan untuk komoditas serealia dan biji-bijian (grain) telah melebihi kondisi sebelum perang. Hal ini karena petani Jerman Barat berhasil memanfaatkan cuaca dan iklim yang baik di tahun 1948-1949 secara maksimal. Suplai faktor produksi pertanian terutama pupuk berjalan lancar. Selain itu, kerja keras petani Jerman yang mengandalkan kerja fisik berhasil mengatasi kekurangan alat pertanian, modal dan alat angkut.

Di Jerman Timur, sistem pertaniannya bersifat kolektif di bawah rezim sosialis. Tahun 1945-1946, Sovyet melakukan reformasi agraria (bodenreform) secara besar-besaran di Jerman. Tanah milik kaum bangsawan (Junker) dijadikan pertanian kolektif. Tanah milik perusahaan pertanian besar dan swasta (lebih dari 100 ha), NAZI, serta penjahat perang disita tanpa kompensasi. Tanah kemudian dipecah-pecah dan dibagikan ke buruh tani, petani kecil, dan pengungsi.  Tapi beberapa tahun kemudian, petani dipaksa bergabung membentuk pertanian kolektif. Di tahun 1960-an, terdapat 5.100 kelompok pertanian kolektif dengan rata-rata luas lahan 4.100 ha.

Selama perang dingin, kedua Jerman memiliki kebijakan pertanian yang berbeda sesuai dengan sistem politik yang berlaku. Jerman Barat menerapkan kebijakan liberal dan pertanian didominasi pertanian individu/swasta, sedangkan Jerman Timur dengan ideologi sosialis-komunis menerapkan pertanian kolektif. Perbedaan keduanya sedikit banyak mempengaruhi corak pertanian masing-masing negara bagian setelah Jerman bersatu.

Lihat Bagian 1

Referensi:


 

Advertisements

5 thoughts on “Pertanian Jerman di era NAZI (2): Perang Dunia II (1939-1945)

  1. Pingback: Hobi berkebunnya orang Jerman | Kurniawan's Views

  2. Pingback: Pertanian Jerman di era NAZI (1): Pra-perang (1933-1939) | Kurniawan's Views

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s