Etika street photography

Giessen an der Lahn – Seperti posting sebelumnya, streetphotography ini memotret manusia secara “candid” (pengaturan pose seminimal mungkin) di ruang publik yang sifatnya bebas. Streetphotography bertujuan untuk menangkap keadaan, interaksi atau situasi manusia di ruang publik apa adanya.

Nah, mengenai “candid” ini, kok mem-foto diam-diam? Apa bedanya dong dengan stalker atau creep? Itu beneran fotografer atau …. ?

20170921-DSCN1714

Not a balloon head (Foto: Kurniawan (2017) di Flickr )

Sebenarnya, streetphotography memiliki etika yang harus dipegang. Intinya adalah empati. Artinya, sebelum kita memotret orang, kita berpikir apa kita sendiri keberatan/malu/terganggu jika difoto seperti itu. Selain itu kita harus wise (bijak) dalam bertindak baik dalam memotret, mengunggah, dan berkomunikasi dengan subyek foto.

Berkaitan dengan hal tersebut, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, diantaranya:

  • Patuhi aturan/hukum yang ada. Setiap negara memiliki aturan yang berbeda. Di Indonesia mungkin lebih longgar, tetapi di Jerman termasuk ketat karena berdalih melindungi privasi warga negaranya.
  • Tidak memfoto gelandangan dan orang yang tidak berdaya atau hopeless people (kecuali jika mereka bersedia untuk difoto atau kita berkeinginan untuk membantunya). Termasuk korban lalu lintas yang membutuhkan pertolongan. Harap dibedakan antara fotografi jalanan (streetphotography) dengan foto jurnalistik.
  • Sebisa mungkin berbincang dengan subyek foto. Ucapkan terima kasih dan tawarkan untuk mengirim fotonya via email. Bisa juga dilanjutkan dengan ajakan untuk mem-follow website dan social media kita. Jadi, ini bisa dijadikan sebagai ajang promosi.
  • Meminta izin jika masuk pada wilayah/sekelompok orang tertentu. Ajak berkomunikasi dan berbincang. Ini juga untuk lebih mendekatkan pada subyek foto. Dalam streetphotography, semakin dekat dengan subyek akan semakin baik.
  • Jika sedang photo walking atau hunting bareng, sebisa mungkin tidak berombongan dalam jumlah banyak. Ini akan mengganggu aktivitas warga sekitar dan subyek foto akan merasa terintimidasi.
  • Hindari menggunakan kamera yang besar dan lampu blitz. Ini akan mengganggu subyek foto.
  • Jangan mengambil foto sebanyak mungkin dari satu subyek foto yang sama.
  • Jangan bertindak seperti stalker, paparazi, atau creep. Artinya jika memang tidak ingin diketahui saat memotret, berusahalah untuk tidak ketahuan. Tetapi jika ketahuan, jangan menghindar dan kabur. Tetap tersenyum dan ajaklah subyek foto untuk berbincang dan perlihatkan hasil foto kita.
  • Ambil foto sebagus mungkin. Jika subyek foto berpose memalukan, usahakan agar wajahnya tidak dikenali, misalnya dengan cropping atau mengambil dari sudut dimana wajah tertutupi. Jika tidak memungkinkan, jangan mempublikasikannya.

Streetphotography merupakan salah satu cara dalam melatih sikap empati kita dan merasakan emosi orang-orang di sekitar kita.

Happy hunting and be streetwise.


Referensi:

 

 

Advertisements

2 thoughts on “Etika street photography

    • Iya, Mas. Intinya sama saja sih antara di Indonesia dan negara maju. Intinya harus ada empati dan bijak.

      Kalau di negara-negara maju memang sudah ada aturan tertulisnya. Dengar-dengar Jerman juga akan memperketat aturan karena makin maraknya ponsel berkamera yang biasa ambil video, ditambah lagi dengan penggunaan drone berkamera. Aturan di Jerman ini mulai ditiru oleh Perancis.

      Kalau Indonesia lebih pada sopan santun sih dan menjaga hubungan dengan subyek foto dan orang di sekitarnya. Biasanya orang Indonesia ramah-ramah kok asal kita bilang sudah foto.
      Soal upload foto, di INdonesia memang belum ada aturannya sih, dan biasanya subyek foto fine2 aja jika fotonya diupload asal fotonya bagus dan tidak memalukan.
      Tapi jika fotonya memalukan, lalu viral dan menimbulkan kerugian, subyek foto bisa melaporkan dengan tuduhan pelanggaran UU ITE. Kalau sudah gini, dendanya bisa lebih mahal dari di Jerman.

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s