Benarkah Islam menjadi bagian dari tradisi dan identitas Jerman?

Giessen an der Lahn – Islam yang semakin banyak dan berkembang di Eropa makin mencemaskan kelompok ekstrem sayap kanan. Kelompok ini menyebarkan ketakutan terhadap Islam dan Islamophobia pun makin meningkat akibat kesalahpahaman ini.

20120823-DSCF2100

Pernikahan ala Muslim Turki di Altes-Rathaus (Balai Kota Lama) Frankfurt (Foto: Kurniawan, 2012)

Di Jerman sendiri, saat ini ada lebih dari 4 juta umat Islam, dan sekitar separuhnya memiliki status kewarganegaraan Jerman. Sebagian Muslim datang dari Turki di tahun 1960-1970-an, yang datang atas tawaran pemerintah Jerman untuk bekerja membangun Jerman dan memulihkan ekonomi usai perang.

Keberadaan umat Islam di Jerman sendiri masih menjadi isu yang hangat sampai hari ini. Salah satu yang menjadi perdebatan adalah apakah Islam menjadi bagian dari tradisi dan identitas Jerman?

Pernyataan bahwa Islam menjadi bagian dari Jerman pernah dilontarkan Presiden Jerman  Christian Wulff (2010-2012) di tahun 2010. Namun kemudian diralat oleh penerusnya, Presiden Joachim Gauck (2012-2017), yang menyatakan bahwa Islam hanya menetap di Jerman. Selanjutnya Perdana Menteri Hans-Peter Freidrich, menyatakan bahwa tidak ada bukti sejarah Islam menjadi bagian dari Jerman.

Pernyataan ini ditanggapi sinis oleh beberapa komunitas Muslim. Menurut mereka, para politikus Jerman ini lupa bahwa budaya Eropa Barat sempat mengalami masa kegelapan dan Islam membawa harapan dan perubahan bagi dunia pada masa itu. Islam lah yang mengenalkan kata-kata seperti: laksamana, aljabar, alkohol, atlas, dan lain-lain.

Perdebatan ini kembali muncul ketika Konselir Jerman, Angela Merkel, menyatakan bahwa Islam bagian dari Jerman (meneruskan pendapat dari Mantan Presiden Wulff) sebagai reaksi dari demostrasi oleh Pegida (organisasi sayap kanan radikal anti-Islam) di tahun 2015. Merkel menganjurkan untuk dialog dan berintegrasi dengan baik dengan masyarakat Jerman tanpa memandang agama, ras, dan lain-lain. Kerjasama dengan Turki juga diperlukan untuk memerangi terorisme.

Penyataan ini mendapat tentangan dari Pegida dan AfD (Alternative für Deutschland – partai politik sayap kanan ekstrim yang anti-imigran dan anti-Islam). Ini karena semakin membanjirnya pengungsi dan imigran yang mendesak warga lokal Jerman. Mereka berpendapat bahwa kebanyakan imigran datang ke Jerman ini karena alasan ekonomi, bukan karena meminta suaka politik. Pengungsi dari daerah konflik memang diberi bantuan, tetapi harus ditempatkan di luar Jerman.

Selain itu, Islam yang dianggap penuh kekerasan karena dibawa dari daerah konflik oleh imigran, dituduh tidak kompatibel dengan konstitusi Jerman, sehingga perlu dilarang berkembang, bahkan melalui pintu belakang sekalipun. Dalam kampanyenya mereka menakut-nakuti dan melakukan prejudice tentang Islam. Mereka merujuk pada hal-hal yang dilakukan Islam radikal. Selain itu, mereka memperkirakan bila hal ini tidak dicegah,  muslim akan menjadi mayoritas di Jermandi tahun 2050. Jadi menurut kelompok ini, seluruh muslim Jerman harus keluar Jerman dan penerjemahan Al-Qur’an ke bahasa Jerman harus dilarang. Ini jelas-jelas bertentangan dengan konstitusi Jerman yang menyatakan menjamin kebebasan beragama.

Kampanye dengan menyebarkan ketakutan ini berakibat pada 66% masyarakat Jerman yang berpendapat bahwa Islam bukan bagian dari Jerman.

Di sisi lain, penganut Islam radikal umumnya menafsirkan Al Quran secara harfiah dan tidak memperhatikan sebab-sebab (latar belakang) diturunkan ayat-ayat tersebut. Mereka melihat agama dari satu sudut saja dan melihat Islam secara sempit.

Menurut Ustadz H. Ibrahim Omar, M.A (Ketua Indo Muslim Bonn – IMB), Islam begitu luas dan universal dan menyentuh segala aspek kehidupan. Untuk itu, lanjutnya, kita tidak bisa berkata bahwa Islam bagian dari Jerman. Kita juga tidak bisa berkata bahwa Islam bukan bagian dari Islam. Ini karena kita tidak bisa mengukur Islam luasnya Islam. Islam terlalu bersifat universal dan kita tidak bisa membatasi pengertian Islam.

Berdasarkan penelitian dan jajak pendapat, semakin banyak orang Jerman yang merasa terancam dengan Islam. Umumnya mereka bukan golongan religius. Selain itu makin banyak orang Jerman yang masuk Islam, semakin membuat takut penduduk Jerman yang belum mengenal Islam. Untuk itu, lanjut Ustadz Ibrahim, diperlukan kelompok Islam yang mengenalkan Islam dengan sebenar-benarnya sehingga bisa menurunkan tensi/ketegangan di Jerman. Dialog dan diskusi antara keduabelah pihak perlu dilakukan untuk mengikis sentimen masyarakat Jerman terhadap hal-hal yang negatif yang dilakukan oleh sebagian kecil muslim.

Usaha-usaha meredakan ketegangan dan ketakutan terhadap Islam mulai membuahkan hasil di beberapa kota di Jerman, seperti Kota Köln dan Bonn. Ustadz Ibrahim bercerita bahwa sekarang masyarakat Jerman menyetujui pengajaran Islam dan bahasa Arab di sekolah-sekolah, bahkan sekolah Kristen di Köln, Bonn, dan beberapa kota lain di Jerman. Demikian juga dengan pembangunan masjid, asalkan sesuai dengan peraturan pendirian bangunan di Jerman. Hal tersebut tidak ditemui dua puluh tahun yang lalu. Selain itu, orang Jerman tidak lagi marah/tersinggung jika ada muslimin yang menolak berjabat tangan. Bahkan jika melihat orang sholat di mall, orang Jerman akan maklum dan tidak mau berjalan/lewat di depannya.

Ini tidak lepas dari sejarah dimana orang Turki telah datang dan menetap di Köln dan Bonn sejak dua puluh tahun yang lalu. Mereka mengenalkan Islam dan berinteraksi dengan warga lokal Jerman, sehingga orang Jerman tidak asing lagi dengan sholat, puasa, zuckerfest (Idul Fitri) dan lain-lain. Gerakan penolakan pembangunan Masjid Agung Köln oleh sebagian warga malah dilawan oleh masyarakat Jerman itu sendiri.

Namun di kota-kota lain terutama di wilayah ex-Jerman Timur, seperti di Dresden, Islam mendapat penolakan yang kuat meski proporsi jumlah penduduk muslim hanya 0.4% saja. Ini juga tidak lepas dari sejarah panjang Jerman Timur yang tertutup dengan orang asing.

Memang dakwah untuk mengenalkan Islam memerlukan waktu yang lama dan jalan yang tidak mudah. Namun percayalah bahwa Allah akan selalu menolong hambanya yang berusaha berdakwah. Perbaiki diri kita, jalin silaturahmi dan sebarkan Islam yang rahmatan lil alamin di seluruh penjuru dunia.


Referensi:


Catatan: Tulisan ini merupakan modifikasi dan penambahan data dari artikel penulis yang telah dipublikasi sebelumnya di website PCI Muhammadiyah Jerman Raya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s