Sekilas tentang Pertanian di Jerman

Giessen an der Lahn – Kontribusi sektor pertanian dan pengolahannya (agri-food) terhadap GNP di Jerman memang hanya 5%. Namun pertanian memiliki peran yang besar bagi masyarakat Jerman.

Secara kasar, 1 dari 8 pekerjaan di Jerman berhubungan dengan sektor agri-food ini. Produktivitas pertanian di Jerman cukup tinggi mengingat, seorang petani Jerman dapat memberi makan 144 orang konsumen. Nilai produksi pertanian di Jerman cukup tinggi, yaitu senilai lebih dari 50 milyar euro (Rp 800 trilyun) per tahun. Volume produksinya sekitar 13% dari produksi total Uni-Eropa. Ini menepatkan Jerman di peringkat ke-2 setelah Perancis.

Jumlah petani Jerman kira-kira 380.000 dan 90% nya menjadi anggota DBV (Deutsche Bauernverband – Asosiasi Petani Jerman). Dibandingkan dengan petani di US yang memiliki ribuan ha lahan, petani Jerman ini rata-rata memiliki 58 ha lahan.

DSCN1397

Beberapa silo di komplek pertanian Gladbacherhof-Aumenau, sebuah situs pertanian milik University of Giessen. Selain sebagai unit bisnis, lokasi ini juga merupakan tempat penelitian farming practice. Salah satu penelitiannya telah berlangsung selama 25 tahun untuk meneliti pengaruh teknik bertani terhadap kesuburan tanah dan perubahan populasi organisme & mikro-organisme tanah. Rencananya, penelitian ini akan berlangsung selama 100 tahun (Foto: Kurniawan, 2017)

Karakteristik bentuk usaha pertaniannya berbeda antara wilayah barat dan timur. Di wilayah Jerman bagian barat (eks Jerman Barat), 94.9% persen adalah perusahaan individu, 4.6% partnership, dan sisanya petani tunggal. Sekitar 88.9% lahan pertanian dikuasai perusahaan individu, diikuti partnership (10.1%) dan petani tunggal (1%)

Sedangkan di wilayah timur (eks Jerman Timur), 77.8% adalah perusahaan individu, 10.8% partnerships dan 11.4% petani tunggal. Meski jumlahnya sedikit, petani tunggal ini menguasai 51.2% lahan, diikuti perusahaan individu (26.4%) dan partnership (22.4%).

Hasil produksi pertanian utama Jerman termasuk: susu, babi, sapi, unggas, sereal, kentang, gandum, barley, kubis, dan bit gula. Di beberapa wilayah wine, buah, sayur, dan produk hortikultural lainnya memainkan penanan penting. Produk pertanian berbeda antar wilayah dan negara bagian. Di wilayah datar utara Jerman dan terutama di wilayah timur banyak menghasilkan serealia dan bit gula. Ditempat lain di wilayah perbukitan dan pegunungan, petani menghasilkan sayur, susu, babi dan sapi. Perkebunan buah dan sayur umumnya berada di sekitar kota besar. Lembah sungai selatan dan barat (terutama sepanjang Sungai Main dan Sungai Rhine) banyak ditanami anggur. Produk lain yang terkenal adalah bir Jerman, terutama diproduksi di Bavaria.

Pertanian di Jerman memang boleh dikatakan sudah maju. Namun bukan berarti tidak menghadapi tantangan, diantaranya:

  • Peningkatan populasi dunia dan perubahan perilaku makan. Populasi dunia makin meningkat dan tidak sedikit yang bermigrasi ke Eropa. Para migran ini tentunya memerlukan bahan pangan yang sedikit mirid dengan negara asalnya. Pola makan masyarakat Jerman sendiri mulai berubah dengan mulai mengurangi daging dan memperbanyak sayur dan buah organik. Ini menuntut pertanian Jerman menghasilkan produk organik yang makin variatif, selain juga untuk ekspor.
  • Perubahan iklim dan perlindungan dari iklim yang ekstrim. Perubahan iklim, menjadi tantangan tersendiri, misalnya karena musim dingin bisa lebih panjang atau pendek (tergantung siklus yang tidak menentu) yang berakibat pada kepastian tanam dan panen. Perubahan kondisi salju dan aliran air di Pegunungan Alpen juga mempengaruhi pertanian.
  • Perlindungan sumberdaya alam, termasuk menjaga kesuburan tanah dan kesehatan masyarakat. Pertanian masih menghadapi kritik karena masih belum dalam bentuk terbaiknya, terutama berkaitan dengan keamanan pangan dan dugaan pencemaran yang berakibat pada kesehatan masyarakat.
  • Isu-isu peternakan, diantaranya industrialisasi yang memunculkan dugaan bahwa ternak tidak diperlakukan dengan baik untuk mengejar keuntungan yang lebih tinggi. Kessadaran masyarakat Jerman tentang hak-hak hewan membuat perusahaan ternak berusaha menjalankan usahanya sesuai kode etik.
  • Suplai energi yang berkelanjutan sebagai akibat penggantian energi nuklir ke energi terbarukan. Energi terbarukan dirasakan masih mahal dan perlu subsidi.
  • Kompetisi global, misalnya pengurangan impor susu oleh Rusia yang sedikit-banyak memukul industri susu Jerman.

Demikianlah, meski maju pertanian Jerman menghadapi banyak kendala dan tantangan. Tapi petani Jerman yakin bahwa semua itu pasti akan dapat teratasi.

Seperti yang dikatakan oleh seorang petani Jerman, “pertanian (petani) dikatakan maju bukan karena produksi yang tinggi, menerapkan teknologi yang canggih, memiliki alat yang hebat, dan memiliki modal yang banyak. Pertanian (petani) dikatakan maju adalah bila petani mau terus belajar, memperdalam skill menjadi lebih baik, serta berusaha memecahkan semua persoalan yang dihadapi. Kemudian membagikan semua ilmu, keahlian dan pengalaman yang dimiliki kepada orang lain dan generasi selanjutnya. Intinya petani maju bukan karena teknologi maju, tapi petani yang bervisi untuk maju”.

Tetapi untuk kasus di Indonesia, bagaimana petani berpikiran untuk maju bila pemerintah gagal memberikan kepastian bagi petani?

Referensi data:

  • DBV (Deutsche Bauernverband). 2015. The Common Agricultural Policy (CAP) and national agricultural issues. DBV Berlin.
  •  

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s