CAP di Jerman (1): Apa itu?

Giessen an der Lahn – Negara-negara Uni Eropa memiliki kebijakan umum pertanian (Common Agricultural Policy – CAP). Kebijakan ini mencakup intervensi dan pendanaan pemerintah demi melestarikan pertanian, membantu petani, dan membuat pertanian lebih hijau dan stabil. Reformasi CAP terakhir diadopsi pada Desember 2013.

Di Jerman sendiri, Uni Eropa mengucurkan dana 6,2 milyar euro (Rp 99,2 trilyun) per tahun untuk pendanaan melalui CAP untuk membantu petani dan pembangunan pedesaan selama tahun 2014-2020. Bantuan dana ini terbagi dua, yaitu: direct payment dan rural development.

16925247502_bdb8750da9_k

Hamparan kebun anggur (vineyard) tepi Sungai Rhine di Rüdesheim  (Foto: Kurniawan, 2014)

Pilar pertama: pembayaran langsung (direct payment)

Pilar ini adalah pembayaran langsung pada petani yang memenuhi syarat, berdasarkan luas lahan. Tujuannya adalah, pertama, sebagai insentif bagi petani karena mereka telah bertanggung jawab mengelola dan menjaga lahan pertanian, menghasilkan pangan berkualitas baik, serta menciptakan lapangan kerja di pedesaan.

Kedua, sebagai kompensasi bahwa petani di Eropa harus memiliki standar yang lebih tinggi dibandingkan petani lain, terutama yang berhubungan dengan lingkungan, perlindungan terhadap binatang dan konsumen. Dan ketiga, untuk menjaga stabilitas penghasilan petani dari ancaman fluktuasi harga produk pertanian yang kadang kala sangat ekstrim.

Jerman diperkirakan menggelontorkan dana 4.85 milyar euro per tahun (Rp 77.6 trilyun) antara 2014-2020. Pembayaran ini meliputi:

  1. Basic premium, petani mendapatkan 154 – 191 euro (Rp 2,46 – 3,06 juta) per hectar atas lahan pertanian yang dimiliki.
  2. Environmental service, petani mendapat tambahan 85 euro (Rp 1,36 juta) per hectare dari setiap lahan yang dihijaukan (lahan rumput untuk ternak, tanaman pangan khusus untuk diversifikasi, dan 5% area yang tidak ditanami untuk kepentingan lingkungan).
  3. Supplement to small and medium-sized farm, yaitu tambahan 50 euro/ha (Rp 800 ribu/ha) untuk 15 ha pertama dan 30 euro/ha (Rp 480 ribu/ha) untuk lahan lebih dari 15 ha. Luasan maksimum adalah 95 ha.
  4. Additional support for young farmer, yaitu petani muda (dibawah 40 tahun) mendapat bantuan 44 euro/ha (Rp 704 ribu/ha) selama maksimum 5 tahun dan luas lahan maksimal 90 ha.

Pilar kedua: pembangunan pedesaan (rural development)

Pilar ini bertujuan agar pertanian semakin menarik di mata penduduk pedesaan. Prioritas dalam jangka panjangnya adalah pertanian yang memiliki daya saing yang tinggi, menjaga pengelolaan sumberdaya alam yang berkelanjutan dan mendukung penguatan ekonomi di wilayah pedesaan.

Jerman selama 2014-2020 akan mengucurkan 1.35 milyar euro (Rp 21.6 trilyun) per tahun untuk mendanai hal-hal sebagai berikut:

  1. Mengatasi masalah pertanian-lingkungan-iklim. Bantuan ini juga meliputi dukungan terhadap ancaman iklim, pertanian organik dan mengatasi tantangan alam.
  2. Membantu pengembangan perusahaan pertanian, pariwisata di pedesaan dan toko/pasar pertanian.
  3. Pengembangan ekonomi pedesaan agar wilayah pedesaan semakin menarik dan memiliki masa depan yang lebih baik.

Capaian dan kritik

CAP dianggap berhasil meningkatkan intensitas produksi pertanian hampir dua kali lipat, meski memiliki dampak negatif bagi lingkungan. Namun dampak negatif ini berhasil dikurangi saat dukungan harga (price support) diturunkan.

Kritik lain diantaranya CAP mengakibatkan distorsi bagi negara pengekspor yang menjadi mitra dagang Jerman, dan menciptakan ketegangan mengenai persoalan perdagangan bebas di level WTO.

Selain itu adanya kemakmuran yang hilang (welfare loss) akibat kesalahan alokasi sumberdaya pertanian. Inefisiensi penggunaan sumberdaya ini masiih menjadi perdebatan.

Ketidak setaraan manfaat CAP di antara sesama petani dan antar region juga masih menjadi masalah. CAP juga dianggap tidak effisien dalam mentransfer pendapatan ke petani. Hal ini juga memunculkan pertanyaan tentang siapa yang paling banyak memperoleh manfaat dari CAP? Apakah petani kecil yang merupakan sasaran utama CAP, ataukah justru pihak lain?

Beban anggaran yang besar disertai dengan beban administrative yang kompleks dan rumit menjadi permasalahan tersendiri. Pengambilan keputusan juga harus berjenjang sampai ke level Uni Eropa. Ini ditambah dengan banyaknya pihak yang berkepentingan dengan CAP, seperti pelobi pertanian, pengambil keputusan (pemerintah/negara), industri, penggiat lingkungan, dan lain-lain.


Bagi petani Jerman, CAP memberikan kepastian dalam berbisnis pertanian sehingga mereka dapat mengkalkulasi keuntungan, berinvestasi dan meningkatkan kemampuan diri mereka untuk memajukan bisnisnya dan pertanian Jerman pada umumnya. Namun demikian, CAP juga memberikan konsekuensi bagi petani Jerman, yang akan dibahas pada posting selanjutnya.

Ke Bagian 2

Referensi:

Advertisements

4 thoughts on “CAP di Jerman (1): Apa itu?

  1. Pingback: Sekilas tentang Pertanian di Jerman | Kurniawan's Views

  2. Pingback: A Glimpse of Farm Business in Bavaria, Germany | Kurniawan's Views

  3. Pingback: Menggeliatnya eksekutif muda pertanian | Kurniawan's Views

  4. Pingback: CAP di Jerman (2): Enakkah menjadi petani di Jerman? | Kurniawan's Views

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s