CAP di Jerman (2): Enakkah menjadi petani di Jerman?

Giessen an der Lahn – Petani di Jerman dijamin sepenuhnya oleh pemerintah dan Uni Eropa melalui mekanisme CAP (Common Agricultural Policy). Dengan mekanisme ini, petani Jerman mendapat insentif berupa pembayaran langsung (direct payment) untuk setiap lahan pertaniannya, insentif untuk menjadikan lahan pertanian lebih hijau (greening), insentif petani kecil, insentif petani muda, dan jaminan harga panen. Tidak sedikit orang mengira bahwa menjadi petani di Jerman itu enak sekali. Tapi benarkah demikian? Apa konsekuensi bagi petani atas subsidi pertanian dalam mekanisme CAP?

Inilah beberapa konsekuensi CAP yang penulis rangkum dari kunjungan (exkursion) ke beberapa usaha pertanian di Jerman.

Dalam CAP diatur pemberian subsidi kepada petani sekitar 150-200 euro per hektar untuk lahan yang digunakan untuk pertanian. Tetapi insentif ini hanya diberikan kepada pemilik lahan, bukan petani. Artinya, jika petani hanya menyewa lahan, dia tidak mendapatkan skema bantuan ini. Sebaliknya pemilik lahan menerima bantuan dana tanpa melakukan apa pun. Akibatnya, harga tanah akan semakin mahal karena pemilik enggan menjual tanahnya. Petani yang ingin memperluas usahanya terpaksa menyewa tanah yang kemudian sewanya makin mahal karena meningkatnya permintaan sewa tanah. Inilah mengapa beberapa petani di perbatasan menyewa lahan pertanian di negara lain seperti di Rep. Ceko dan Polandia.

DSCF2528

Petani di Stuttgart selesai melakukan penyemprotan (Foto: Kurniawan, 2012)

Penyuluhan pertanian di Jerman tidak diberikan secara gratis. Petani harus membayar setiap bimbingan yang diberikan oleh penyuluh/ahli pertanian profesional. Tarif untuk penyuluhan bisa berkurang jika menjadi anggota asosiasi petani seperti DBV (Deutsche Bauernverband). Tapi jika ternyata advice yang diberikan tidak mempan, petani terpaksa menyewa penyuluh swasta dengan tarif yang lebih mahal.

Petani diminta memproduksi pangan dengan kualitas tinggi, melebihi kualitas produksi negara-negara lain. Petani pun harus berhadapan dengan berbagai macam sertifikasi untuk membuktikan bahwa hasil panennya aman, sehat, ramah lingkungan, berkualitas baik, dan premium. Petani juga diminta untuk menyediakan bahan pangan sesuai permintaan konsumen yang beraneka ragam, baik yang reguler, bio, organik, non-gluten, high nutrition, low calorie, dan lain-lain. Petani pun harus menyatakan bahwa semua hewan ternaknya dipelihara dengan baik sesuai dengan hak-hak hewan.

Petani menjual hasil panennya berdasarkan kontrak yang telah disepakati. Kualitas hasil panen yang tidak sesuai kontrak akan menyebabkan petani terkena denda yang tidak sedikit, serta hasil panennya ditolak sehingga terpaksa dijual dengan harga lebih rendah.

Petani berkewajiban menjaga lingkungan pertanian dan kesuburan tanahnya. Diantaranya menjaga lahan pertaniannya tetap hijau, menyisakan sebagian lahan pertaniannya tetap berisi pepohonan, mencegah erosi, menjaga aliran sungai, dan lain-lain. Memang ada skema bantuan dana untuk ini, tetapi tidak mencukupi.

Selain itu, petani dituntut agar pertaniannya adalah ramah lingkungan dan tidak mencemari air tanah. Menggunakan sistem zero-waste farming sangat dianjurkan, meski sistem ini dianggap sebagian masyarakat masih belum ideal.

Pekerja pertanian langka dan mahal (karena syarat seperti adanya sertifikat keahlian, upah minimum, dan asuransi) sehingga petani sulit memperoleh tenaga kerja. Ini menyebabkan petani Jerman sangat tergantung pada mesin-mesin canggih yang mahal. Untuk itu, beberapa petani kecil perlu bersatu membentuk cooperative atau partnership agar dapat berbagi biaya pembelian mesin.

Petani juga dihadapkan pada masalahnya tingginya harga air dan energi. Di Indonesia, petani hanya dibebani iuran pemeliharaan saluran untuk dapat menggunakan air irigasi. Petani Jerman harus membayar air yang digunakan, meski harganya tidak semahal air untuk industri dan rumah tangga. Petani juga memerlukan energi terutama untuk pemanas pada musim dingin dan pengatur suhu pada musim panas demi keberlanjutan usaha peternakannya. Banyak petani yang menyiasatinya dengan membangun reaktor biogas sendiri dan menggunakan panel surya.


Petani dimana pun menghadapi kendalanya masing-masing. Insentif yang diberikan kepada petani akan disertai dengan tuntutan yang berat. Di Indonesia pun juga demikian. Adanya subsidi bibit, pupuk, kredit dan bantuan alat pertanian selalu disertai dengan tuntutan untuk meningkatkan produksi dan intensitas tanam. Hanya saja belum sampai pada pemberian jaminan harga yang layak (kecuali padi).

Ke Bagian 1

Advertisements

One thought on “CAP di Jerman (2): Enakkah menjadi petani di Jerman?

  1. Pingback: CAP di Jerman (1): Apa itu? | Kurniawan's Views

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s