Generasi awal muslim Jerman

Giessen an der Lahn – Sejarah mencatat bahwa Islam telah menyentuh Jerman sejak abad ke-17 saat terjadinya Siege of Vienna (1529-1683) antara Kesultanan Turki Usmani dengan gabungan Kerajaan Austria dan  Prussia yang dibantu Hungaria. Awalnya Islam dibawa oleh para prajurit Turki Ustmani yang tertawan dan ada sebagian prajurit yang bergabung ke Kerajaan Prussia. Saat memasuki masa damai, Islam dibawa oleh para pedagang, penterjemah, dan diplomat dari Kesultanan Turki. Awalnya Islam hanya dianut oleh para pendatang tersebut, tapi kemudian ada sebagian orang Jerman yang akhirnya menganut Islam.

Namun jauh sebelumnya, ternyata ada beberapa orang Jerman dan orang yang pernah tinggal di wilayah berbahasa Jerman dan disekitarnya yang telah lebih dulu memeluk Islam. Inilah beberapa di antaranya yang tercatat dalam sejarah.

Adam Neuser

Adam Neuser (1530-1576), terlahir sebagai Kristen, merupakan pastur dan theologian populer yang mengabdi di Peterkirsche, Heidelberg. Kekecewaan pada rejim gerejawi menjadikannya ragu terhadap dogma Kristen Orthodox, terutama berkaitan dengan Konsep Trinitas. Neuser mengirim surat-surat yang menyerang Konsep Trinitas kepada gereja, dan juga menulis surat untuk berdialog dengan Kesultanan Ustmani. Akibatnya, Neuser beberapa kali masuk penjara karena mengingkari Trinitas. Terakhir kali dipenjara, Neuser melarikan diri setelah rekannya, Johan Sylvan, dieksekusi. Neuser lari ke Istanbul melalui Transylvania dan menjadi mualaf. Neuser kemudian mengabdi pada Sultan Salim II sampai di akhir hayatnya.

Seperti yang tertulis dalam dokumen “Antiquities Palatine“, dia mengakui bahwa dia percaya dengan Musa dan Isa Al-Masih. Hanya saja dia akan membuktikan bawa Ajaran Yesus Kristus tidak menyatakan bahwa Yesus adalah Tuhan (atau anak Tuhan). Kesimpulan ini dia dapatkan setelah mempelajari dari kitab-kitab suci yang telah ditulis sejak zaman Nabi Isa sampai pada tulisan Doktor dan kaum cendekia dimasanya.

Banyak pihak yang mendiskreditkan bahwa Neuser hanya takut pada hukuman, kemudian lari ke Istanbul dan dipaksa untuk masuk Islam. Ada juga pendapat bahwa ia adalah mata-mata, terpaksa masuk Islam karena takut dibunuh bajak laut Mediterania, balas dendam kepada gereja yang pernah memenjarakannya, dan sebagainya.

Namun, seperti yang tertulis dalam jurnal harian Stephen Gerlanch (pastur Lutheran dan diplomat Austria untuk Kekhalifahan Ustmani) bahwa Calvinism-lah yang menuntunnya pada Islam, terutama yang berkaitan dengah Tuhan memiliki kekuasaan mutlak. Calvinism adalah sempalan dari Gereja Katholik Roma yang merupakan cabang terbesar dalam Kristen Protestan, disebut juga Reformed Christianity. Gerlach juga menulis bahwa Neuser juga aktif dalam kelompok orang Jerman (terutama mantan Calvinism) yang menjadi mualaf di Istanbul.

Murad bin Abdullah (Balazs Somlyai)

Murad bin Abdullah (1509-1586) lahir di Rumania dan dibesarkan sebagai Kristen Protestan di Hungaria. Kemudian dia memperoleh pendidikan theologi lanjutan di Vienna.

Tidak jelas bagaimana Murad bin Abdullah menjadi tentara Hungaria dan terlibat dalam Battle of Mohacs (1526). Dia tertangkap oleh tentara Ustmani pada pertempuran itu. Setelah pertempuran itu, Murad menerima pendidikan agama Islam, bahasa Turki, dan kemungkinan direkrut menjadi tentara Ustmani. Di tahun 1550-an dia ditunjuk menjadi penterjemah dan kemudian dipromosikan menjadi diplomat. Kemampuan bahasa dan diplomasinya sangat berguna bagi Sultan Sulaiman, karena pada saat itu kekuasaan Kekhalifahan Ustmani makin luas sehingga memerlukan banyak diplomat dan birokrat.

Murad bin Abdullah menjelaskan bahwa prosesnya menjadi mualaf melalui proses yang rasional. Studinya yang mendalam terhadap berbagai kitab suci Kristen membuatnya berkesimpulan bahwa Tuhan adalah satu (Maha Kuasa dan Maha Esa), bukan Trinitas. Baginya, kitab suci tidak boleh diterjemahkan, tetapi harus dipelajari sesuai dengan bahasa aslinya untuk menghindari salah interpretasi. Hasil dari studi yang mendalam ini mengantarkannya pada kesimpulan bahwa Islam adalah agama yang benar.

Mehmed bin Abdullah

Mehmed bin Abdullah pada awalnya adalah pelajar theologi di Gereja Kristen Ortodoks Yunani. Mehmed menulis sendiri surat tentang kesaksian dan pengakuan ke-Islamannya di tahun 1623.

Mehmed menyatakan bahwa pengetahuannya tentang filsafat kuno meningkatkan pemahamannya pada kitab-kitab suci yang dipelajarinya. Menurutnya, kedatangan Nabi Muhammad ada dijelaskan dalam Kitab Perjanjian Lama, Perjanjian Baru, dan Psalms. Dia kemudian menyarankan untuk memperluas interpretasi kitab yang berkaitan dengan garis kenabian mulai dari Kitab Perjanjian Lama. Menurutnya, kebenaran tentang kedatangan Muhammad ada dalam Injil, tetapi para pendeta secara sengaja telah salah menginterpretasikannya. Studinya terhadap kitab-kitab suci tersebut menjadikannya ragu-ragu dan bertanya-tanya tentang agamanya sendiri.

Mehmed kemudian melakukan perjalanan ke wilayah bekas Kerajaan Romawi, termasuk menemui pendeta di pelosok desa, untuk mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaannya. Akhirnya dia dianjurkan untuk pergi ke Roma setelah diyakinkan bahwa keraguannya akan terjawab. Tetapi dia pun kecewa karena ternyata semua orang salah menginterpretasikan ayat-ayat yang membuatnya ragu. Akhirnya dia mendengar ada seorang pendeta tua yang memiliki reputasi dalam menolong orang yang kebingungan dengan Bible. Setelah mempelajari ayat-ayat tersebut, pendeta tua itu meratapi kaum Kristen yang semakin jauh dari jalan yang ditetapkan pendahulunya dan telah melanggar batas kebenaran melalui mis-interpretasi kitab suci. Jawaban pendeta tua menjadikannya yakin untuk masuk Islam.

Mehmed pun pindah ke Istanbul, mengucapkan syahadat di hadapan Sultan Ahmed, dan memperoleh nama Mehmed. Kemudian beliau mempelajari Al-Qur’an di istana.

Ibrahim Müteferrika

Ibrahim Müteferrika (1674-1745) dilahirkan di Kolozsvár (termasuk wilayah Transylvania, Romania) dari orangtua beretnis Hungaria. Nama asli Hungaria-nya tidak diketahui. Beliau adalah diplomat, penerbit, ahli percetakan, ahli ekonomi, ahli astronomi, sejarawan, histographer, ulama, theologist dan ahli sosiologi. Beliau juga adalah Muslim pertama yang menjalankan percetakan dengan aksara Arab.

Müteferrika masuk Islam pada umur yang masih muda dan bergabung ke Kekhalifahan Ustmani menjadi seorang diplomat. Krstic (2011), dari berbagai sumber, menulis bahwa dulunya Müteferrika adalah pendeta Kristen Unitarianism. Unitarianism adalah gerakan agama Kristen yang menyatakan bahwa Tuhan adalah satu entitas, bukan tiga (Trinitas). Müteferrika kemudian menjadi  mualaf setelah mempelajari kitab-kitab suci agama Kristen.

Müteferrika banyak berperan dalam misi diplomasi Kekhalifahan Turki dengan Rusia dan Austria. Selama menjadi diplomat, dia tertarik mengumpulkan berbagai buku yang membantunya memahami gerakan Renaissance di Eropa.

Usaha penerbitan dan percetakannya berkembang pesat di Istanbul. Müteferrika tidak hanya menerbitkan buku-buku agama, tetapi juga buku-buku non agama. Bahkan beliau juga mencetak peta dunia (termasuk peta Indonesia dan Asia Tenggara) di tahun 1728. Peta ini ada dalam Cihannuma (The Mirror of the World), yaitu buku peta dan gambar pertama yang diterbitkan oleh dunia Islam yang ditulis dan diilustrasi oleh Kâtip Çelebi (Mustafa bin Abdullah).

Selama hidupnya, Müteferrika telah menulis  17 judul buku dengan berbagai volume yang dicetak melalui penerbitannya. Buku pertama (dua volume kamus Arab-Turki) diterbitkan di tahun 1729.


Berdasarkan uraian di atas, keputusan untuk menjadi mualaf ini pertama-tama karena adanya keraguan terhadap agama dari dogma gereja Kristen Orthodoks. Perpecahan gereja ke beberapa cabang, seperti protestan, calvinism, unitarianism, dan lain-lain juga menjadi sebab.

Terpstra (2015) menulis perpecahan ini makin parah sehingga muncul pertentangan yang keras dari kelompok mayoritas (Kristen Orthodoks) dengan mulai menangkap dan bahkan mengeksekusi pendeta dari cabang minoritas. Akhirnya, banyak dari mereka  mengungsi ke wilayah lain termasuk sampai ke Afrika. Kekhalifahan Turki Usmani yang pada waktu itu terbuka dengan pemeluk agama lain menjadi salah satu tujuan favorit. Di Turki mereka bebas menjalankan ibadahnya tanpa rasa takut karena dilindungi oleh Sultan. Mereka juga bebas untuk mempelajari kitab-kitab lain, termasuk mempelajari Al-Qur’an.

Selanjutnya Tepstra (2015) juga menulis, tidak sedikit dari mereka yang terpesona dengan kemegahan Turki Ustmani bahwa penerapan Islam secara kaffah benar-benar membuat kerajaan menjadi maju dan masyarakatnya menjadi masyarakat terbaik. Kemegahan Turki Usmani membuat sebagian dari mereka menganggap bahwa Kekhalifahan Ustmani adalah penerus sejati Kerajaan Romawi. Namun Tepstra (2015) juga mengkritik bahwa sebagian mualaf mungkin juga memiliki tujuan lain, yaitu memperoleh kedudukan. Ini karena sebagian dari mereka memperoleh kedudukan setelah jadi mualaf, seperti petinggi militer, penterjemah, dan diplomat.

Namun demikian, penerapan Islam secara utuh akan membuat masyarakat dan negaranya menjadi maju. Ini membuat orang berbondong-bondong masuk Islam, seperti pada masa setelah Nabi Muhammad SAW menguasai Kota Mekkah.

Referensi:

 

4 thoughts on “Generasi awal muslim Jerman

  1. Ternyata awalnya dari org2 Turki ya Islam msul ke Jerman dan memberi warna lain pd kehidupan.

    Menarik jg mmbca versi lain dr sudut muslim ttg sjrah keimanan bbrp org yg mmeluk Islam di Jerman dg berbagai alasannya itu. 🙂

    Liked by 2 people

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s