Sudah Sarjana-kah kita?

“Maka banyak sarjana seperti kita lupa, atau pura-pura lupa bahwa misalnya, guru yang mendidik mereka dari sekolah dasar hingga perguruan tinggi digaji oleh masyarakat; bahwa sarana pendidikan yang mereka pakai dari gedung sekolah sampai laboratorium juga dibiayai dengan pajak orang banyak. Mereka lupakan ini semua sehingga status yang mereka peroleh dari kesarjanaan mereka hampir tak punya fungsi sosial. Mereka seakan merasa bahwa status kesarjanaan yang mereka peroleh semata-mata merupakan prestasi pribadi dan karenanya hanya punya fungsi individual. Dengan demikian amat banyak sarjana seperti kita yang kehilangan keanggunan di mata masyarakat yang telah membesarkan kita. Mereka tak bisa berterima kasih dan membalas budi. Maka jangan heran bila masyarakat telah kehilangan banyak kepercayaan dan harapan atas diri orang-orang seperti kita” [Ahmad Tohari – Bekisar Merah (1993)].

Giessen an der Lahn – Mendadak teringat dengan tulisan Ahmad Tohari dalam novel Bekisar Merah seperti dikutip di atas. Kalimat itu adalah nasehat seorang tokoh dosen pada mahasiswanya, Si Kanjat.

Ya… kita kadang terlena. Setelah menjadi sarjana yang dibenak kita hanya mencari kerja untuk membantu orang tua dan menghidupi diri sendiri. Kadang kita lupa. Tidak hanya orang tua yang membiayai sekolah kita, tapi juga rakyat yang berjuang menyisihkan sebagian hartanya untuk membayar pajak.

Akibatnya, kita hanya berpikir untuk diri sendiri. Semakin banyak kita berkorban untuk menjadi sarjana, semakin giat kita mencari pengembalian modal. Makin tinggi status kesarjanaan kita, makin giat kita mencari uang demi prestise. Bahkan tak jarang tanpa sadar kita mengkorupsi uang negara.

Hey…, yang lain juga begitu…!

Sudah lumrah…, yang penting sesuai ‘aturan main’. Terlalu jujur malah karir terhambat“.

Lagian aku sudah bekerja lebih keras dari yang lain. Coba lihat yang lain. Mereka hanya santai-santai saja… Wajar aku mendapat lebih“.

Dan…, beribu-ribu alasan lainnya.

Kita lupa… bahwa dalam gelar yang kita sandang tidak hanya karena keringat kita dan orang tua kita. Tapi juga keringat mereka-mereka yang seharusnya kita bayar kembali dengan hasil kerja kita.

Tapi buat apa kita bekerja keras… Toh, hasilnya belum tentu untuk rakyat. Keburu dikorupsi orang lain.

Negara ini sudah rusak dikuasai koruptor. Jangan sampai semuanya dikuasai koruptor-koruptor kakap itu. Kita pegawai rendahan juga harus dapat“.

Hey…, jika kamu belum jungkir balik bekerja untuk negaramu, jangan mencela.

Ya Allah…, jagalah niatku bahwa apa yang aku kerjakan tidak hanya untuk diri sendiri dan keluarga, tapi harus bermanfaat bagi orang lain. Semoga kita terhidar dari perilaku curang, korupsi dan tindakan negatif lainnya.

Bukankah Rasulullah SAW pernah bersabda: “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain” (HR. Ahmad, ath-Thabrani, ad-Daruqutni).

***

Transparency International (TI), sebuah lembaga non-partisan yang berbasis di Berlin, merilis indeks persepsi korupsi dari 175 negara tahun 2015. Indonesia menduduki peringkat ke-88 dengan nilai indeks 3.7. Selama pemerintahan SBY yang dilanjutkan oleh Jokowi, nilai indeks persepsi korupsi cenderung meningkat, dari 2.2 (2005) meningkat stabil menjadi 3.6 (2015).

Memang perjalanan memerangi korupsi masih panjang. Tapi, masih banyak diantara pebisnis, politikus/pegawai pemerintah, dan masyarakat yang bahu-membahu memerangi korupsi, meski dihadapkan pada oligarki kekuasaan. Bagaimana pun juga, korupsi harus diperangi karena menghambat potensi ekonomi untuk maju dan menyebabkan ketidakadilan yang nyata di masyarakat.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s