Balada laptop tua dan hidup manusia

Giessen an der Lahn – Tak terasa 6 tahun sudah Laptop tua ini menemani. Laptop pertamaku sebagai pengganti PC. Laptop yang dulu disayang-sayang. Maklum laptop pertama. Diberi screen protector sampai keyboard protector. Dibersihkan hampir tiap hari. Saking sayangnya, tidak sembarang orang boleh menyentuhnya. Jika dipinjam orang lain, meski hanya beberapa menit, rasanya hati ini khawatir jika laptop rusak. Bahkan takut kalau sampai tergores meski hanya goresan kecil.

Laptop ini tidak pernah digunakan untuk macam-macam dan melakukan tugas berat. Tidak pernah digunakan untuk video editing, dan edit photo berukuran besar. Beberapa orang pernah mencoba meminjam untuk video editing untuk kegiatan keislaman. Tapi selalu kutolak dengan berbagai alasan, meski sebenarnya laptopku mampu.

Sekarang laptopku sudah menua. Sudah beberapa kali terjatuh (dari sepeda dua kali). Pernah sekali ketumpahan orange juice di keyboard-nya. Hampir sepertiga hardisk terpaksa di-“potong” karena bad sector. CMOS battery sudah harus diganti. Beruntung power battery masih bagus dan mampu menjalankan laptop selama hampir 2 jam. Ini karena power battery jarang terpasang.

Sekarang era sudah berbeda. Saat ini apa-apa pakai streaming dan live video, termasuk berbagai ceramah dan kegiatan keislaman. Namun, laptopku sudah tua, menjadi sangat lambat dan ketinggalan jaman. Memang masih bisa untuk video editing, tapi tertatih-tatih. Pernah kurencanakan untuk membantu proses streaming video ceramah agama, tetapi apa daya dia tersengal-sengal. Sayang sekali, saat ingin kugunakan untuk menambah amal ibadahku, ianya tidak mampu lagi.

***

Kisah laptop ini mungkin seperti lembaran hidup manusia. Saat muda, kita memanjakan diri dengan bersenang-senang. Waktu dihabiskan untuk memoles tampilan luar supaya lebih keren dan cool. Memilih menonton bioskop dan jalan-jalan daripada menghadiri majelis-majelis ilmu. Menghadiri majelis ilmu pun supaya tampak keren. Alasannya… hei…, kita masih muda, masih banyak waktu, dan umur kita masih panjang.

Ketika tubuh mulai menua, baru timbul semangat mengkaji ilmu agama dan menghadiri majelis-majelis ilmu. Tapi sayang, tubuh yang merenta menjadi terasa sulit. Daya ingat pun melemah. Tertatih-tatih mencerna dan memahami ilmu. Ingatan lebih didominasi kenangan masa lalu, dimana tubuh masih sehat dan gesit beraktivitas. Timbul penyesalan diri, kenapa kita menyia-nyiakan tubuh yang sehat dan pikiran yang terang.

(Sebuah renungan di suatu waktu setelah selesai Sholat Jumat di Masjid Turki DITIB Giessen).

Advertisements

5 thoughts on “Balada laptop tua dan hidup manusia

  1. Memang apapun klo masih baru biasanya disayang-sayang. Nggak cuma laptop tp jg barang lain seperti sepeda motor hp dll.

    Tapi saya salut dengan mengumpamakam laptop dengan kehidupan manusia. Dimana masa mudanya manusia pada umumnya lebih suka memoles tampilan luar agar terlihat keren atau apalahm sementara ketika mulai menginjak usia tua baru tersadar bahwa semua itu tak bgtu berguna. Dan ketika ingin belajar agama, daya ingat dan tenaga sudah tak mumpuni.

    Liked by 2 people

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s