Di negeri yang harus menyuap untuk membantu orang miskin

Giessen an der Lahn – Alkisah, di suatu negeri bernama Entah Apa Namanya. Korupsi memang sedang meraja lela.

Seorang Adipati yang dipilih langsung oleh rakyat baru saja ditangkap karena kasus suap. Uang layanan kesehatan yang seharusnya untuk rakyat, harus dipotong dan disetor oleh sang kepala dinas sebagai syarat agar kursinya aman. Uangnya digunakan untuk kampanye sang Adipati di pemilihan yang akan datang. Sebagian uangnya juga sebagai mahar untuk partai politik demi selembar surat dukungan.

Dari mana uang suap itu? Tentu saja dari potongan anggaran sana sini.

Bukti pengeluaran yang sudah di-mark up, dokter dan tenaga medis ikut menandatangani. Jika tidak tanda tangan, uang tidak akan cair dan gudang obat-obatan kosong. Bagaimana ingin menolong pasien jika uang untuk obat dan lain-lain tidak ada.

Akhirnya, orang yang paling jujur pun terpaksa tanda tangan. Ini demi menolong orang yang berobat. Tanpa tanda tangan, tidak ada obat. Tanpa obat, pasien tak terselamatkan. Dan, orang itu pun secara tidak langsung berperan dalam penyuapan ini.

Celakanya lagi, rakyatnya-lah yang sebenarnya membiayai korupsi ini, dalam bentuk pembayaran pajak, retribusi, setoran bukan pajak, dll. yang dikorupsi.

Di sudut lain negeri tersebut, sekelompok anak muda idealis dan donatur ingin membantu membangun jembatan agar anak-anak sekolah tidak perlu lagi berjibaku menyeberang sungai untuk pergi ke sekolah. Dana dan alat sudah siap. Tapi jembatan tidak kunjung dibangun karena belum ada perizinan dan “perizinan”. Mengurus perizinan dibuat begitu lama, terbelit-belit, dan melalui banyak tahapan. Sementara musim hujan sebentar lagi tiba dan anak-anak terancam tidak bisa ikut ujian sekolah karena sungai banjir. Belum lagi aparat yang merasa gengsi dan wibawanya tercerabut karena membangun jembatan sejatinya adalah tugas kerajaan melalui mereka. Apa jadinya jika wartawan tahu bahwa kerajaan tidak mampu melaksanakan tugasnya membangun jembatan. Masak, aparat dan kerajaan kalah sama anak-anak muda bau kencur. Apa kata dunia…!!!

Akhirnya aparat bersedia memberi izin asalkan ada pelicin. Makin banyak pelicin, makin cepat dapat izin, makin cepat membangun, dan makin cepat anak-anak terbantu….. Dan, malaikat pun menjadi iblis untuk tetap menjadi malaikat.

Advertisements

3 thoughts on “Di negeri yang harus menyuap untuk membantu orang miskin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s