Menambang “emas putih” di lahan rawa (1)

Giessen an der Lahn – Indonesia adalah pengkonsumsi “emas putih” alias beras terbesar di dunia, yaitu sekitar 127.67 kg/kapita/tahun. Hal ini mengakibatkan produksi dalam negeri tidak mencukupi dan mulai impor sejak 198an, meski pernah mengalami swasembada beras tahun 1984.

Saat penduduk semakin meningkat, produktivitas padi cenderung stagnan. Tingkat pertumbuhan produktivitas stabil pada kisaran kurang dari 1 %. Di sisi lain, konversi lahan pertanian menjadi non-pertanian sangat cepat terjadi, terutama di Jawa.

Di lain pihak, Indonesia memiliki 6 juta lahan rawa tropis yang dapat digunakan untuk pertanian. Kalimantan Selatan sendiri memiliki 17,828 hektar lahan untuk pertanian padi. Hanya saja, lahan rawa ini termasuk lahan sub optimal, yaitu lahan yang mengalami degradasi yang mempunyai kesuburan yang rendah dan tidak mampu mendukung pertumbuhan tanaman secara optimal.

Lahan rawa umumnya terbagi 3, yaitu: lahan pasang surut, lahan lebak, dan lahan gambut. Masing-masing lahan memiliki karakteristik dan permasalahan tersendiri yang unik sehingga dan memerlukan teknologi yang spesifik.

Lahan pasang surut memiliki sifat hidrologi yang tergantung dengan gerak pasang surut air laut dan jarak lahan dengan laut. Jika dekat dengan laut, lahan terancam dengan salinitas, terutama pada musim kemarau. Jika terlalu jauh dan air pasang tidak dapat mencapai lahan, pengairan otomatis tergantung dari curah hujan. Tanahnya biasanya bersifat masam karena kandungan pirit di dalam tanah. Jika senyawa ini terekspos dengan udara, maka akan teroksidasi menjadi asam sulfat. Untuk itu diperlukan teknologi berupa varietas padi yang tahan salin dan tahan asam. Teknologi pengolahan lahan dan budidaya pun harus disesuaikan agar pirit tdak teroksidasi.

Lahan lebak (rawa monoton) lahan rawa yang hidrologinya tidak dipengaruhi oleh pasarng surut air laut. Lahan sangat tergantung pada air hujan dan genangan air bisa naik-turun dengan drastis tergantung curah hujan. Genangan air sangat tinggi di musim hujan sehingga tidak mungkin dilakukan budidaya padi, dan sebaliknya pada musim kemarau. Untuk itu diperlukan varietas yang memiliki umur singkat dan mampu beradaptasi dengan perubahan ketinggian permukaan air.

Lahan gambut terbentuk dari dekomposisi yang tidak sempurna dari vegetasi dan bahan organik lainnya yang disebabkan karena genangan air dalam jangka waktu yang lama. Kesuburan tanahnya tergantung dari dekomposisi vegetasinya. Lahan gambut hanya baik untuk tanaan padi bila ketebalan gambut kurang dari 1 m. Masalah dalam pertanian gambut adalah kandungan bahan organik yang cepat hilang. Masalah lain adalah penurunan gambut dan kandungan pirit dalam tanah yang tidak oleh terekspos udara, selain juga masalah kebakaran gambut. Untuk itu diperlukan varietas yang tahan terhadap keasaman tanah, penyakit dan kondisi ekstrim lainnya.

Semua varietas tersebut harus didukung dengan teknologi yang spesifik lokasi dan adaptif. Teknologi yang meliputi pengelolaan lahan, penataan air, hara terpadu, dan konservasi tanah dan air diharapkan dapat meningkatkan produktivitas lahan.

16623309640_73b616cd4f_o
Pertanian lahan rawa di Kab. Barito Kuala, Kalimantan Selatan (Foto: Kurniawan (2014) di Flickr)

Kendala-kendala di atas memang dapat diatasi dengan teknologi. Berdasarkan penelitian, ujicoba lapangan, dan proyek-proyek percontohan, ada peluang bahwa produktivitas padi lahan rawa dapat meningkat dari 3-4 ton/ha menjadi 6-7 ton/ha. Hanya memang perlu perjuangan untuk menjadikan peluang ini benar-benar dapat direalisasikan. Selain itu juga, mampukah lahan rawa ini menjadi tambang emas putih yang berkelanjutan

Kendala agro-ekologi di atas hanya merupakan salah satu kendala menambang “emas putih” di lahan rawa. Masih ada kendala sosial, ekonomi, dan budaya yang akan dibahas kemudian.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s