Bencana…, antara azab, peringatan, dan ujian

“Hat eure Gott zufällig gepennt, oder war er gerade nicht im Dienst oder Urlaub gewesen?”
(Tuhan kalian kebetulan tertidur, atau sedang tidak dinas atau ke kebetulan sedang cuti?)

Banjarbaru – Ini adalah cerita yang beredar di kalangan diaspora dan pelajar Indonesia di Jerman sejak terjadinya gempa dan tsunami Palu dan Donggala. Seperti yang diceritakan diaspora Indonesia, Dr. -Ing. Suhendra, saat kolega Jerman beliau berkomentar soal gempa dan tsunami di Palu dan Donggala, seperti quote di atas.

Ini juga berkaitan dengan bantuan Jerman untuk sistem deteksi dini tsunami di tahun 2011. Ternyata sistem ini tidak berfungsi sejak setahun setelah diserahkan Indonesia. Artinya hanya setahun sistem ini berfungsi.

“Kalau saja standar prosedur dilaksanakan, lebih dari 1000 jiwa tak bersalah diselamatkan” kata lelaki itu, ilmuwan dari GFZ Potsdam (pusat kajian ilmu Potsdam) di salah satu stasiun TV Jerman.

“Alat deteksi dini sudah kami serahkan ke pemerintah Indonesia sejak 2011. Alat terletak sekitar 200 km dari Palu dan berfungsi baik mendeteksi gempa dan potensi tsunami. Seharusnya, pemerintah segera memberikan sirene bahaya dan mengevakuasi warga secepatnya”.

Kawan, tidak layak kita mengadili Tuhan. Tentu karena Tuhan tidak pernah tidur. Tuhan Maha Kasih dan Sayang. Mengapa ia kirim enam meter ombak ke saudara kita di Palu, hanya Ia yang tahu rahasianya. Mengapa lahan seluas 64 ha di Anak Krakatau runtuh dan menyebabkan apa yang disebut silent tsunami, hanya Dia pula yang tahu rahasianya.

Yang perlu kita lakukan adalah ber-muhasabah, mengambil hikmah dan pelajaran dari musibah ini. Apakah musibah ini adalah azab atau ujian dan Allah SWT? Atau keduanya?

Saat ini musibah sebagai azab masih menjadi kontroversi dan menjadi pro dan kontra. Azab disini dianggap sebagai hukuman karena manusia telah melakukan maksiat, seperti: mabuk-mabukan dan narkoba, judi, prostitusi, dan lainnya. Bagi yang pro, hal ini dianggap wajar karena setiap maksiat pasti mendapatkan balasannya, baik kepada pelaku maupun orang di sekitarnya. Untuk itu, senantiasa berbuat baik dan hidari maksiat karena akibat maksiat tidak hanya menimpa diri sendiri tetapi juga keluarga dan masyarakat sekitar.

Bagi yang kontra, tidak sepantasnya bencana alam dihubungkan dengan azab karena dalam musibah lebih banyak orang baik yang menjadi korban. Serta, orang baik yang ikut tertimpa musibah akan dianggap bermaksiat dan pantas mendapatkan azab.

Namun demikian, bagi orang-orang yang beriman, musibah adalah ujian baik kepada yang tertimpa maupun tidak. Bagi korban, itu adalah ujian apakah tetap sabar, tawakkal, dan istiqomah. Sedangkan bagi non-korban ini ujian apakah ikhlas menyumbangkan uang, harta, waktu, dan tenaga (bahkan nyawa) untuk menolong korban tanpa membeda-bedakan latar belakang korban. Apakah tetap ikhlas meski apa yang dilakukan hanya dipandang sebelah mata oleh manusia atau bahkan dicaci maki sebagai tukang pamer?

 

Banjir yang merendam lahan jagung (Foto: Kurniawan, 2014)

Terlepas dari itu, seharusnya kita dapat mengambil pelajaran dari setiap musibah. Musibah berupa bencana alam pasti dapat dicegah untuk meminimalkan korban jiwa dan benda. Musibah banjir, longsor, dan kekeringan dapat dicegah dengan menjaga alam. Musibah tsunami dan gempa mungkin tidak dapat dicegah, namun tingkat kerusakan dan korban dapat diminimalisir. Kerusakan bencana tsunami diminimalisir dengan sistem peringatan dini yang baik dan menanam kembali hutan mangrove di pesisir pantai. Gempa diatasi dengan membangun konstruksi tahan gempa dan latihan rutin menghadapi gempa.

Mungkin inilah salah satu azab yang dimaksud. Jika kita lalai dan tidak mengambil pelajaran dari setiap musibah yang ada, maka kita memang pantas menerima azab ini. Kita mungkin akan protes kepada Tuhan, bahkan menganggap Tuhan sedang tidur seperti anggapan di atas. Mestinya kita bermuhasabah, jangan-jangan kita lalai.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s