Akankah Konflik Suriah menular ke Indonesia? Tinjauan dari sisi Pertanian (2)

Apakah Indonesia bisa bernasib seperti Suriah?

Pertanyaan ini tidak mudah dijawab mengingat kondisi Suriah dan Indonesia yang sangat berbeda. Suriah memiliki sumberdaya alam (terutama air) yang terbatas.

Namun, hal ini bisa terjadi jika ada sesuatu hal yang sangat ekstrim. Misalnya jika pembangunan pertanian terus menerus diabaikan. Sementara impor terus ditingkatkan dengan alasan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat dan kestabilan ekonomi.  Petani pun merasa pertanian tidak menguntungkan lagi dan akhirnya memilih untuk pergi ke kota.

Pertumbuhan urbanisasi di Indonesia saat ini adalah sebesar 4,1 persen. Angka tersebut lebih tinggi daripada pertumbuhan urbanisasi di Tiongkok yang sebesar 3,8 persen dan India 3,1 persen. Indonesia sendiri mengharapkan ada 68 persen penduduk dari populasi yang akan tinggal di wilayah perkotaan pada 2025 (Menkeu, 2018). Urbanisasi memang memberikan kontribusi positif terhadap pertumbuhan ekonomi nasional.

Angka pertumbuhan urbanisasi yang relatif tinggi itu tidak diiringi dengan kemampuan manajemen perkotaan dan infrastruktur yang memadahi. Akibatnya urbanisasi justru akan menimbulkan kantung-kantung pemukiman kumuh di perkotaan. Ini akan menyebabkan terjadinya konflik sosial. Apalagi jika masalah pemukiman kumuh ini diatasi dengan penggusuran dan pengusiran.

Selain itu jika pemerintah menjadi sangat otoriter, hanya mendengarkan kicauan dari pendukungnya, maka kejadian seperti Suriah akan makin mungkin terjadi. Ditambah lagi jika pemerintah amat baper dengan kritik oposisi dan kelompoknya.

Demikian juga jika pemerintah pun bersikap disguised authoritarian. Artinya pemerintah menyatakan sebagai demokratis dan tidak anti kritik, tetapi berlaku sebaliknya. Ini dilakukan jika pemerintah meminjam tangan organisasi pendukungnya yang dianggap sebagai satu-satunya suara rakyat untuk melakukan represi kepada kelompok masyarakat lain. Maka semuanya akan mungkin akan terjadi, meski peluangnya kecil.

Bagian 1

Reference:
Bappenas
Felecia P. Adam

5 thoughts on “Akankah Konflik Suriah menular ke Indonesia? Tinjauan dari sisi Pertanian (2)

  1. Sementara impor yerus ditingkatkan dengan alasan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat dan kestabilan ekonomi. (kata YERUS mesti disunting, Mas)

    Khusus tentang impor, aku kok belum paham dengan keputusan pemerintah yang banyak impor ini-itu dari luar negeri. Apakah semiskin dan begitu kekurangannya kah negeri ini? Misal mesti impor garam atau bawang.

    Like

    • Terima kasih koreksinya, Mas.
      Saya sendiri juga ga ngerti kenapa Kemendag melakukan impor terus menerus. Alasan2 yang dikemukakan ya itu2 saja. Produksi tidak stabil atau tidak mencukupi, atau kualitas jelek dan tidak seragam.
      Tapi kenapa impor terjadi saat panen raya sehingga malah memukul harga lokal?
      Kualitas jelek? Nyatanya kualitas garam kita lebih bagus kok. Bagaimana bisa meningkatkan kualitas jika tidak ada pembinaan dan harga selalu jatuh?

      Like

  2. Pingback: Akankah konflik Suriah menular ke Indonesia? Tinjauan dari sisi pertanian (1) | Kurniawan's Views

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s